Panji Landung


20131106-180642.jpg

Nenekku pencerita terhebat yang pernah kuketahui, aku masih takjub dari mana beliau mendapatkan kisah-kisah ajaib itu. Sebagian besar katanya adalah cerita dongeng turun-temurun yang ia dapatkan dari leluhurnya. Namun beberapa kisah tentang dirinya sendiri. Aku takkan pernah lupa salah satunya. Siapa yang tak suka kisah nyata?

Dua hari itu aku menderita gejala disentri, aku sudah diangkut ke dokter dan tidur sepanjang siang, malam harinya nenek datang berkunjung dan menceritakan kisah yang katanya tak pernah ia ceritakan sebelumnya. Dasar pembohong.

Kisah itu tentang ia dan adik kandungnya. Nenek mereka (ibu dari buyutku) sedang terbaring tak berdaya di ranjang mendekati ajal, sebulan lamanya, ia lah menjaganya. Lalu ada pertemuan dengan Panji Landung yang mengubah hidup mereka selamanya.


*

Nenekku, bernama Putu Ning, sedang berumur sebelas tahun. Ia sangat menyayangi adiknya, Kadek Ratna, berumur sembilan tahun. Ning dan Ratna yang diasuh ibu dan nenek mereka tinggal di desa Rangdi di perbukitan. Desa itu terpencil, dingin, suram, sunyi dengan jalan tak beraspal dan dikelilingi kebun kopi. Meski mereka tidak miskin, kehidupan keluarga ini sangat sederhana. Rumah mereka terdiri dari bangunan utama dengan tiga kamar yang terbuat dari tanah liat beratap ilalang dan dapur di seberangnya.

Ning dan Ratna tak pernah mengenal ayah mereka. Keluarga itu bahkan tak memiliki fotonya. Ibunya tak menceritakan detil mengenai ayahnya, tidak sampai mereka cukup umur.

“Apa yang terjadi?” tanya Ning pada Ibunya setelah bertahun-tahun lamanya. Ratna merebahkan diri di dekat mereka, mendengarkan.

“Ibu menemaninya ke kebun,” sahutnya, mengenang. “Ibu menunggu di bawah ketika ayahmu memanjat pohon kelapa, Ibu hanya bisa melihat tanpa daya saat beliau terpeleset. Ayahmu jatuh berguling-guling dan melesat ke jurang.”

Ning mendekat dan memeluk lengan ibunya.

“Seluruh desa berusaha menemukan jenasah beliau di dasar jurang.” lanjut ibunya. “Tak ada yang berhasil menemukannya.”

Ratna menoleh. “Benar-benar tak ada jejak?” ia bertanya. Ibunya menggeleng.

Kedua gadis itu berusaha membayangkan apa yang terjadi saat itu, sungguh misteri yang menyeramkan.

“Kalau Kakek?” tanya Ning.

“Beliau sakit,” kata ibunya. “Sejauh yang ibu ingat.”

“Sakit apa?” tanya gadis itu lagi.

“Tak ada yang tahu. Beliau menderita batuk-batuk, mungkin radang, sudah berobat ke mana-mana tak kunjung sembuh. Nenek menemukan beliau sudah tak bernyawa pada suatu pagi sebelum hari raya Kuningan. Kejadian ini sudah sangat lama, aku dan ayah kalian baru menikah selama beberapa minggu.”

“Oh ya, tentang nenek kalian, sekali lagi kuingatkan,” lanjut ibunya. “Jangan sekali-kali memakan apapun dari sisa makanannya, dan jangan ambil apapun yang ditawarkannya. Apa kalian sudah melakukan itu sejauh ini?”

Kedua anaknya mengangguk secepatnya.

“Tapi kenapa, bu?” tanya Ning. “Kenapa kami harus melakukan itu.”

“Nenekmu sakit, mungkin saja penyakitnya menular, kalian harus berhati-hati,” katanya. Ibunya tahu kalau Ning sangat menyayangi neneknya, tak ada yang salah dengan itu. Ia tak mau kalau Ning jadi takut untuk mendekati neneknya kalau ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun jadi lebih mencemaskan Ning dari pada Ratna.

*

Kedua gadis itu biasa bekerja memetik kopi bersama ibu mereka sepulang sekolah. Setelah makan siang dan berganti pakaian, mereka berjalan bersama meninggalkan rumah. Dalam perjalanan, Ratna berhenti di bawah pohon beringin besar dengan jalan setapak di dekatnya.

“Kakak pernah lewat sini?” tanya gadis itu. Ning memerhatikan patung besar di bawah pohon beringin. Patung yang sudah rusak dengan bagian-bagian serupa kuping, ekor dan kaki yang tak utuh, seratus persen berselimut lumut. Tapi orang-orang tahu itu berwujud macan. Tumpukan canang dan batang dupa pendek mengering di bawahnya.

Ning akhirnya mengangguk. “Dulu, sebelum kau lahir, ada kebun yang masih milik keluarga kita di sana, sekarang sudah dijual.”

“Apakah jurang yang diceritakan ibu ada di situ?” tanya Ratna lagi.

“Iya mungkin,” sahut Ning.

“Boleh kita ke sana?” tanya Ratna.

“Ayo,” sahut Ning.

Mereka memasuki jalanan setapak itu. Pohon-pohon kopi sedang berbuah di kanan-kiri jalan, beberapa pohon kelapa mencuat ke langit. Ning menuntun adiknya masuk ke dalam jalan yang lebih kecil, menerobos semak yang tumbuh menutupi jalanan. Setelah sepuluh menit berjalan sampailah mereka di tepi jurang.

“Apakah ini pohon kelapa yang dipanjat ayah?” tanya Ratna. Pohon itu sangat tinggi, buah-buah kelapanya sudah mengering, coklat, bergerombol penuh. Tak ada yang menyentuh pohon ini sejak begitu lama, terabaikan, sejarahnya menakutkan.

“Entahlah,” sahut Ning. Mereka memandang ke bawah, mengira-ngira berapa tingginya, mungkin 200 meter.

“Bagaimana mungkin penduduk desa tak berhasil menemukannya?” kata Ning mengernyit. “Pasti jatuh di sekitar sana.” Di dasar jurang mereka melihat hamparan rumput dan semak-semak rimbun. Ada banyak tumbuhan rambat dan beberapa pohon kopi yang tumbuh liar. Lalu di seberangnya sawah-sawah memenuhi pemandangan. Ning dan Ratna bisa melihat beberapa petani sedang mengerjakan sawah mereka.

“Kita harus bergegas,” katanya, ia baru saja melihat semak-semak bergetar tepat di dasar jurang, seakan sesuatu merayap di bawahnya. “Ayo! Ibu pasti menunggu.”

*

Meski lelah membantu ibunya memetik buah kopi sepanjang sore, Ning tak pernah lupa untuk memerhatikan neneknya. Sementara Ratna tak mau dekat-dekat, ia takut, bahkan jijik. Ning memakluminya karena Ratna masih kecil, lagipula ia sendiri sudah bertekad untuk merawatnya.

Ning membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam kamar. Ruangan itu lembab dan berbau apek, Neneknya berbaring dengan selimut menutupi setengah badannya. Wanita tua itu bernama Ni Sulastri, beliau sangat kurus, ia tak memiliki pipi. Lingkaran hitam di sekeliling matanya sangat gelap, kulitnya penuh keriput, putih dan pucat. Kalau sedang tidur, Ia tampak seperti mayat.

“Buburnya kok tidak dihabiskan lagi, nek?” tanya Ning, memerhatikan piring di atas meja. Selalu begitu setiap harinya, Ning sudah menakar makanan neneknya sedemikian rupa, namun selalu saja disisakan sedikit.

Ni Sulastri membuka matanya perlahan dan tersenyum melihat cucunya. Kedatangannya seakan hal terbaik yang terjadi hari itu. “Sudah nenek makan tadi, masih kenyang. Kamu habisin sisanya ya. Yang kemarin dimakan, tidak?”

Ning mengangguk saja, meski ia tidak dan takkan memakannya. “Sekarang minum obatnya dulu.”

Wanita berumur sembilan puluh tahun itu melepas cincin emas dengan batu berwarna biru dari jari telunjuknya dan menaruhnya di atas meja.

“Kau mau cincin nenek?”

“Cincin itu pasti terlalu besar untukku,” sahut Ning, membuka laci di bawah meja dan mengeluarkan beberapa butir obat yang mereka dapatkan di puskesmas. Ia membantu neneknya duduk dan memberikannya segelas air.

“Ingat sisa buburnya dimakan, ya!” pinta neneknya lagi. Ning terpaksa mengangguk, sudah berbulan-bulan ini neneknya selalu meminta gadis itu untuk menghabiskan sisa makanannya. Ning selalu ingat pesan ibunya, meski ia tak nyaman harus terus berbohong.

Gadis itu mengambil piring dan bergegas meninggalkan kamar. Ia bisa mendengar suara nenek yang terbatuk-batuk di kamarnya. Ning membuka jendela dapur dan menuang seluruh sisa bubur ke luar, lalu mencuci piring itu.

Setelah selesai berberes, ia kembali ke kamar dan menemukan adiknya yang sedang menggambar di ranjang.

“Kenapa orang-orang bilang kakak lebih cantik dari aku?” tanya Ratna saat Ning menyisir rambutnya di cermin yang menempel di pintu lemari kayu jati.

“Menurutku Ratna yang lebih cantik,” sahut Ning. “Jangan pedulikan apa kata orang lain. Kita berdua cantik.”

“Iya, aku memang lebih cantik,” kata Ratna, bangkit dari ranjang dan mengambil sisirnya sendiri. Kakaknya mengangguk, lalu membantunya menyisir rambut.

“Kau tak pipis dulu sebelum tidur?” Ning bertanya.

“Iya, aku mau pipis!”

Keduanya melangkah dengan hati-hati ke luar kamar. Ning berjalan lebih dulu dan membuka pintu. Kamar mandi mereka ada di luar, dekat dapur. Ning meraih tangan adiknya dan berjalan menyeberangi halaman secepat yang mereka bisa. Lalu sesuatu yang sangat besar menghantam tanah di depan mereka, seperti batang kayu yang jatuh dari langit. Ning dan Ratna begitu kaget dan terpeleset di tanah berlumut. Satu lagi benda besar gelap berayun dan menginjak tanah.

Kedua gadis itu terduduk membeku di tanah. Ratna menangis, namun keduanya mendongak ke atas. Mahluk itu sangat tinggi dan besar, kepalanya melampaui pohon kelapa yang tubuh di dekat dapur, dengan seluruh tubuh berikut kaki-kakinya tertutup bulu hitam.

Selama beberapa detik mahluk itu berdiri diam di atas mereka, lalu mulai berjalan lagi meninggalkan pekarangan. Kaki-kakinya melesat melewati pepohonan dan menghilang dari pandangan mereka.

Ning dan Ratna bangkit dan berlari masuk ke dalam rumah dengan tubuh berkeringat. Ratna tak berhenti menangis. Ning berusaha menenangkannya, meski ia juga gemetar hebat. “Kita baik-baik saja, dia sudah pergi. Kita harus beritahu ibu!”

Ning membuka pintu kamar ibunya tanpa mengetuk, menarik adiknya masuk. Ibunya sedang merangkai bunga-bunga untuk membuat canang untuk hari purnama besok.

“Ada apa?” tanyanya ketika melihat kedua anaknya mendekatinya dengan wajah panik.

“Kami melihat mahluk tinggi besar di halaman. Kami hampir terinjak,” kata Ning segera.

Ibunya mengamati mereka untuk melihat apakah anak-anaknya itu baru terbangun dari mimpi, lalu melihat tangan dan baju anak-anak gadisnya yang kotor.

“Kalian melihat Panji Landung?”

“Panji Landung?” tanya Ratna yang sudah berhenti menangis.

“Mahluk tinggi besar yang kepalanya bisa menyentuh langit, Panji Landung berarti Prajurit Berkaki Panjang, mereka sebangsa jin, mungkin dulunya manusia yang dikutuk dan dipaksa mengabdi ke kerajaan. Beberapa orang di kampung sini pernah melihatnya. Kalian tidak terluka?”

Ning dan Ratna menggeleng. Mereka melihat ibunya langsung meletakkan pekerjaannya, bangkit dan meninggalkan kamar. “Ayo ikut ibu!”

Mereka menunggu ibunya ke luar rumah dan kembali dengan nasi basah di dalam gayung besar dan segelas air berisi bunga. Wanita itu mencimpratkan air suci ke kepala anak-anaknya lalu ke luar. Ning dan Ratna mengamati dari beranda saat ibunya menuang nasi dan air dari dalam gayung ke halaman.

“Jangan ganggu kami, wahai Panji Landung! Ini saya berikan anda sedikit nasi, jika anda berkenan!” katanya.
*

Ratna dan Ning tak bisa tidur nyenyak selama dua malam setelah kejadian itu. Pada hari ketiga, hal yang jauh lebih mengerikan terjadi.

Ning sedang membantu adiknya mengerjakan tugas sekolah ketika ketukan di pintu mengagetkan mereka.

“Siapa?” tanya Ning.

“Ini aku,” suara neneknya pelan dari balik pintu. Ning dan Ratna saling pandang.

“Sejak kapan nenek bisa bangun dari tempat tidur?” bisik Ratna.

Ning tidak menjawab, ia bangun dan mendekati pintu.

Mereka melihat neneknya berdiri di depan kamar dengan kebaya putih dan kamben endek terbaik yang dimilikinya. Beliau menggerai rambut putihnya dengan bunga melati terselip di kuping kirinya.

“Nenek mau ke mana?” tanya Ning, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Neneknya masih terlihat seperti mayat hidup, namun ia berusaha mempercantik dirinya dengan bedak.

“Kalian berdua antar nenek ya!” nada suaranya terdengar lebih ke memaksa dari pada memohon.

“Ke mana malam-malam begini?” tanya Ning lagi.

“Ikut saja, ayo!” kata neneknya tegas. “Nenek mau berobat ke rumah kerabat. Temani nenek ya.”

“Malam-malam begini?” tanya Ning. Neneknya mengangguk. Ia tampak tidak sabar.

“Apa Ratna boleh ikut?”

“Kalau dia mau,” sahut neneknya.

“Aku ikut saja!” teriak Ratna. Ia tidak mau di rumah sendirian. Ibunya masih di luar rumah, beliau sedang membantu tetangga membuat banten untuk upacara bayi tiga bulanan.

Maka mereka berjalan meninggalkan rumah. Ratna menerangi jalanan di depan mereka dengan senter kecil. Cahaya bulan purnama yang pucat membantu mereka melihat segala sesuatu di sekeliling.

“Ke mana kita akan pergi, nek?” tanya Ning, kedua anak gadis itu ketakutan. Melihat nenek mereka bisa berjalan saja cukup membuat mereka ngeri, kini mereka harus mengikuti beliau berjalan menembus kegelapan tanpa tahu tujuan.

“Teruslah berjalan,” kata neneknya, kini suaranya datar, hampir berbisik. Ning dan Ratna melangkah di depannya. Mereka takut akan menginjak ular, kalajengking atau bahkan—yang lebih mengerikan—bertemu Panjing Landung.

“Apakah nenek sudah bilang ke ibu?” tanya Ning lagi. Neneknya tak menyahut. Suasana sunyi mencengkram mereka. Ketika Ning dan Ratna menoleh ke belakang, neneknya sudah tak berada di sana lagi. Mereka mendapati berdiri di tengah hutan belantara. Keduanya membeku seperti patung, hal yang sangat tidak beres sedang terjadi.

Ning meraih senter yang dipegang adiknya dan mengecek tanah. Mereka baru menyadari nisan-nisan dan gundukan tanah di sekitarnya, mereka sampai di kuburan desa, sekitar empat kilometer dari rumahnya. Ning bisa melihat siluet pura Mrajapati dua puluh meter darinya.

“Sini, nak, ke mari!” sesuatu berbisik dari balik pepohonan. Suaranya berat dan serak. Ning dan Ratna berpelukan dan menangis. Ingin mereka berteriak memanggil neneknya, namun mereka takut pada apapun itu yang bersembunyi di balik pohon akan mendengar.

“Aku takkan menyakiti kalian,” kata suara itu lagi. “Cepat berjalan ke arah cahaya yang akan kalian lihat sebentar lagi. Kalian harus cepat sebelum nenek kalian menyusul. Dia sangat murka, ia tak bisa bersabar lagi. Kau, Ning, anakku, kau akan dimakannya kalau tak melakukan saranku.”

Dalam kegelapan, Ning dan Ratna saling pandang. Lalu samar-samar, dari balik pohon besar, satu titik cahaya kuning berpendar-pendar, menembus kabut tipis. Cahaya itu seakan merintih dan memanggil mereka.

Kedua gadis malang itu berdiri kaku, menempel erat satu sama lain. Ratna menangis sejadi-jadinya, Ning mempererat pelukannya. Cahaya kuning itu berkedip-kedip dan berputar-putar, namun tak menjauh.

Ning segera menoleh ke arah lain karena suara semak-semak yang berkeresak. Ia menemukan mahluk paling mengerikan yang pernah dilihatnya. Ia setinggi orang dewasa, berambut abu-abu panjang menyentuh tanah. Mahluk itu memiliki wajah lebar, berkeriput. Kedua matanya mendelik, berwarna merah, tak berkelopak. Hidungnya berlubang besar. Mulutnya menganga, menampakkan gigi-gigi besar dan empat taring yang mencuat melampaui dagu dan pipi. Ia berdiri telanjang dengan payudara luar biasa panjang menjuntai. Kedua tangannya berkuku-kuku panjang.

“Kalian akan kulumat!” Geramnya. Ning dan Ratna melangkah mundur.

Ning menjerit ketika mahluk itu melangkah maju, dengan mulut menggeram seperti harimau. Ia segera meraih tangan adiknya dan berlari secepatnya ke arah cahaya kuning yang berpendar. Ia bisa mendengar mahluk mengerikan bertaring itu tertawa kencang. Suaranya bergaung dan memantul di seantero hutan.

Cahaya kuning itu berkedip-kedip, melesat di antara cabang pohon, menuntun mereka ke arah timur. Ning dan Ratna tak tahu ke mana mereka berlari. Mereka begitu ketakutan. Ning akhirnya mengerti apa yang terjadi, ia paham kenapa neneknya mengajak mereka ke kuburan malam-makam begini, ia mengerti kenapa ibunya melarang mereka memakan sisa makanan neneknya. Ini adalah perangkap.

“Aku lelah,” sengal Ratna, mereka berlari tak tentu arah selama sepuluh menit. “Apakah mahluk itu masih mengikuti kita?” Mereka berhenti di kaki bukit. Ning memeriksa ke belakang, hutan terlalu gelap untuk mereka mengetahui apakah ada monster sedang mengamati di antara pohon dan semak-semak.

“Kita belum aman di sini.”

Cahaya kuning terbang ke atas mereka, seperti kunang-kunang berukuran besar. Ning tidak tahu pasti kenapa ia memutuskan untuk mengikutinya, ia tadi mendengar suara seorang pria dari balik pepohonan, suara itu terdengar bersahabat dan familiar.

“Cepatlah daki bukit ini!” suara yang sama terdengar lagi. Mereka mendongak, cahaya itu kini berubah wujud menjadi seekor ngengat berwarna kuning dengan dua ekor panjang. Ia terbang dengan menggerakkan sayapnya yang terang memantulkan cahaya bulan.

Keduanya berjalan cepat mengikuti ngengat besar itu berjalan menembus semak-semak dengan jalanan menanjar. Kini hutan tidak sunyi lagi, mereka mendengar suara-suara jangkrik, angin yang menderu di atas pohon-pohon, kepakan sayap ngengat yang lembut. Di kejauhan ada suara nyanyian pujian sayup-sayup. Lalu beberapa ngengat lain muncul dan terbang di sekiling mereka.

Jalanan sangat menanjak, penuh bebatuan, dan cahaya bulan yang terang muncul dari awan-awan gelap, menerpa perbukitan yang terselimut rumput dan ilalang. Ning mencari-cari ngengat paling besar yang tadi menuntunnya, ia tak ada di manapun.

Ratna memeluk kakaknya ketika kaki-kaki besar berbulu menjejak tanah melewati kepala mereka. Pijakannya tak menimbulkan suara. Keduanya memerhatikan kedua kaki mahluk itu mengambil langkah besar dan berjalan ke atas bukit.

“Sini ikuti aku,” katanya.

Ning menggenggam tangan adiknya dan mengajaknya naik ke atas bukit. Bayangan mereka memanjang ke arah selatan. Angin dingin menggigit tulang berhembus menghempas. Mereka berjalan lebih cepat lagi.

Tepat di atas bukit mereka berhenti dan mendongak ke arah raksasa itu. Itukah Panji Landung yang sama yang mereka liat di halaman rumah? Mahluk itu masih sama menakutkannya. Kini mereka bisa melihat kepalanya, meski tertutup bulu hitam lebat. Ia memiliki wajah seorang pria dengan hidung mancung. Ia juga memakai kalung emas berbentuk rantai besar.

Suara tawa yang menakutkan menggema dari bawah bukit. Lima bola api terbang melesat ke arah mereka. Masing-masing sebesar kurungan ayam.

Panji Landung meraih tubuh Ning dan Ratna dan meletakkan mereka di pundaknya. Bola-bola api menakutkan itu kini sangat dekat. Salah satunya meluncur cepat untuk menabrak.

Panji landung mengayunkan kaki dan menandangnya. Bola api itu terpental dan melesat di atas hutan. Ratna dan Ning telungkup berpegangan. Rambut-rambut Panji Landung sangat kasar dan tebal.

Panji Landung mulai melangkah lagi, kedua anak itu melihat tanah bergerak menjauh dari pandangan mereka. Bola-bola api berputar-putar di sekitar kaki Panji Landung—yang berayun-ayun menendang mereka satu persatu. Teriakan-teriakan dan geraman bergaung di bawah. Kedua gadis itu memejamkan mata pasrah.

Kaki-kaki sang Panji Landung kini begitu panjang sampai mereka bergerak cepat dari satu bukit ke bukit lainnya. Ning dan Ratna memandang ke bawah dan menyaksikan lampu-lampu dari rumah-rumah penduduk desa dua kilometer di bawah mereka. Mereka melesat lebih cepat dari angin berhembus kencang, kedua gadis kecil itu menggigil. Sesaat kemudian, bulu-bulu yang tebal sudah menutupi tubuh mereka.

Sebelum matahari muncul dan menggeliat di balik bukit, Ning dan Ratna sudah tertidur. “Senang berjumpa dengan kalian, anak-anakku,” mahluk itu berbisik.
*

Ibunya sangat heran menemukan Ning dan Ratna tidur di lantai beranda pagi itu. Ia menganggap kedua anaknya pasti berjalanan sambil tidur dan tak kembali ke kamar.

Kondisi neneknya yang semakin parah membuat ibunya mengambil alih untuk merawatnya. Setelah kejadian semalam, Ning dan Ratna sudah terlalu takut untuk mendekati neneknya. Mereka merasa itu mungkin saja mimpi yang sangat nyata.

Dua hari kemudian neneknya meninggal dunia. Upacara Ngaben mestinya harus dilakukan sekitar tujuh hari kemudian, namun karena ada upacara besar di Pura Besakih, semua keluarga yang memiliki kerabat yang meninggal tak diijikan untuk melaksanakan upacara Ngaben.

Setelah Neneknya disemayamkan di kuburan, Ning dan Ratna duduk bersama ibunya di ruang tamu. Beberapa tetangga masih di rumah mereka untuk membantu keluarga itu.

“Aku harus memastikan ini,” kata ibunya. “Apa salah satu dari kalian menerima sesuatu dari nenek? Katakan dengan jujur!”

Ratna lebih dulu menggeleng. “Tidak,” kata Ning beberapa detik kemudian. Ibunya sekarang merasa untuk memberitahu mereka apa yang sebenarnya terjadi. Ia sangat menyesal kenapa ia tak memberitahu ini lebih awal. Ia kini sangat cemas, hal yang ia takutkan mungkin sudah terjadi.

“Nenek kalian memiliki ilmu hitam yang sangat kuat,” ia berkata, akhirnya, setelah menarik nafas dalam. “Itu yang membuatnya menderita dan tak bisa meninggal. Ilmu itu begitu berat mencengkram jiwanya. Ia tak bisa tenang. Sebelum ia mewariskan ilmunya pada seseorang, ia akan terus menjalani itu.”

Ratna dan Ning ketakutan. “Kami tak menerima apapun darinya, iya kan, Ratna?” tanya Ning pada adiknya.

Ratna mulai menangis dan mengangguk. Ia ingat beberapa jam sebelum neneknya ditemukan tak bernyawa pada suatu pagi dua hari lalu, ia sedang mengusap-usap matanya berjalan ngantuk ke kamar mandi. Pintu kamar neneknya berayun terbuka beberapa sentimeter saat ia lewat.

“Ratna sayang,” kata seseorang dari balik pintu. Gadis itu membeku di tempatnya berdiri. “Tolong nenek!”

Tangan kurus dan pucat terkepal meluncur dari balik pintu, tangan itu membuka, memperlihatkan cincin emas berbatu biru di telapaknya.

“Ambilah ini,” katanya. Sinar matahari yang merembes masuk ke dalam kamar menimpa cincin itu. Emasnya berkilau, batu birunya menyala bercahaya. “Aku hampir memberikan ini pada kakakmu, tapi kurasa kau yang lebih membutuhkannya, kau terlihat lebih cantik untuk mengenakan ini, kumohon terimalah.”

Ratna menarik nafas, meski ngeri bertemu neneknya, ia tak ingat lagi pesan ibunya, cincin itu meraihnya, mengetuk hasratnya untuk memiliki, ia pun tak rela kalau kakaknya yang mendapatkannya. Ratna segera melangkah maju tanpa kecemasan lagi dan mengambil cincin itu dari telapak tangan keriput neneknya.

Pintu kamar segera menutup. Ratna berdiri menikmati hadiahnya. Oh betapa indahnya cincin itu, ia segera memakainya di jari telunjuk, ia merasa jauh lebih cantik dari kakaknya sekarang.

***

©IBG Wiraga 2013

Advertisements

3 thoughts on “Panji Landung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s