Aura #3


Part 2

“Aura menangis di kamar,” kata Marin, duduk di ruang tengah bersama ibunya. “Ia tak menemukan diarinya di manapun.”

“Dia menghilangkannya?”

“Kurasa terjatuh di sekitar mall,” sahut Marin mendesah. “Kami sudah mengecek ke sana tadi siang, dan tak menemukannya.”

Ibunya batuk-batuk sambil memegang dada. Marin segera meraih gelas air dari atas meja dan membantunya minum.

“Mama sakit parah. Obatnya sudah diminum?” desak Marin khawatir.

“Mama baik-baik saja, hanya masuk angin. Ngomong-ngomong, kamu serius akan mengajak Aura ke Jakarta?”

“Kami akan berangkat. Aku akan mengajari dia bagaimana seharusnya hidup. Tidakkah mama lihat kelakuannya sangat tidak wajar? Aku tak tahan berada di dalam kamar kecuali untuk tidur, dan Aura menghabiskan seluruh hidupnya di dalam sana, menulis diari.”

“Terserah kamu saja,” kata ibunya masih terbatuk. “Tapi sebaiknya kamu jangan terlalu memaksa dia. Mama tidak mau Aura malah merepotkanmu.”

“Dia akan baik-baik saja bersamaku. Aku berhasil membujuknya ke luar, ini perkembangan yang baik. Meski ia bilang ia harus meminta ijin dulu dari ibunya yang sudah lama meninggal.”

*

Marin melirik jam dinding dengan angka dan jarum menyala di kegelapan, pukul satu dini hari. Gadis itu melepaskan selimut yang membungkus tubuhnya karena gerah. Ia bangkit setelah beberapa menit menahan ketidaknyamanan. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan untuk menyalakan lampu di dekat meja. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, jari-jemarinya menyisir rambut.

Sesuatu yang berkeresak di halaman membuatnya berdiri dan menghampiri jendela.

Halaman gelap gulita, mata gadis itu menyusur ke arah kebun, menuju semak-semak yang mengelilingi ayunan. Samar-samar, Marin merasa sedang melihat seseorang duduk di sana, di salah satu ayunan. Setelah beberapa detik mengamati, ia pun mengalihkan pandangan karena merasa sedang berhalusinasi.

Ia berbalik dan beranjak menyeberangi kamar. Aku benci ini, gumamnya, meraih gagang pintu dan menariknya ke dalam. Koridor terlalu gelap untuknya, namun ia melangkahkan kakinya melewati ambang pintu.

Marin membiarkan pintu kamarnya terbuka dan menyusuri koridor. Ruang keluarga sangat gelap saat ia melewatinya. Perabotan, sofa, dan lemari tampak seperti kumpulan bayangan orang-orang di matanya. Marin melirik ke sesuatu di dekat jendela. Ia yakin ada sosok gelap berdiri di situ, tapi ia segera menepisnya sebagai bayangan semak dari luar. Mata menipu otak, bathinnya.

Marin akan meraih pintu dapur saat mendengar suara-suara dari kamar mandi, sepuluh puluh meter dari tempatnya berdiri.

“Ma, kau kah itu?” Ia memanggil, tak ada yang menyahut. Suara-suara itu masih di sana. Sepertinya ada seseorang yang sedang mandi, Marin meyakinkan diri. Jam segini? Mama? Atau Aura, kah?

Marin mendekati pintu kamar mandi dengan jantung berdebar-debar kencang. Di dalam sana gelap, gadis itu merasa ada yang tidak beres, ini pasti lelucon. Suara itu terdengar semakin jelas, suara saat air tersiram ke lantai setelah melewati tubuh seseorang.

“Ma? Aura? Siapa di dalam sana?”

Tak ada orang yang mandi tanpa menyalakan lampu, Marin berpikir. Namun ia memutuskan untuk mengetuk pintu. Jika ada yang berusaha mengerjainya, lebih baik ia mengetahui siapa di balik orang tolol yang mandi tengah malam.

Marin menghantamkan kepalan tangannya ke pintu, tiga kali, suaranya menggema dalam. Suara siraman air itu berhenti seketika. Berikutnya terdengar—siapapun orang itu—melangkah di atas lantai kamar mandi yang basah. Diikuti desah nafas pendek dan tak teratur, suara itu mendekati pintu.

Marin berjalan mundur, perlahan-lahan. Ini sama sekali tidak wajar, ia curiga, tubuhnya mendadak dingin. Selanjutnya—begitu tiba-tiba—gadis itu merasakan hantaman keras di dadanya sampai ia melesak dan jatuh terjerembab ke lantai. Dua meter di depannya tepat di muka pintu, satu jejak kaki basah muncul begitu saja di lantai, diikuti suara langkah ringan tanpa satupun kaki yang tampak. Satu jejak kaki lagi terbentuk perlahan sepuluh senti di depan jejak pertama, dan diikuti jejak yang lain dengan jarak yang sama di depannya.

Marin membeku di lantai, jejak-jejak itu mendekatinya. Merintih ngeri, ia merayap mundur dengan bertumpu pada telapak tangan. Sesuatu yang membuat jejak itu menuju ke arahnya—dengan suara-suara tarikan nafas yang keras, berat, serak dan dalam.

Marin merasakan sesuatu yang dingin melewati tubuhnya, seperti desiran hawa dari lemari es. Dua jejak air terakhir berhenti begitu saja di antara ke dua kakinya. Marin yang menggigil hebat mendongak ke atas, ia mulai bisa melihat sosok mahluk itu, samar seperti onggokan asap hitam yang terkumpul dari berbagai arah.

Wujud kepala yang tak nyata mendadak condong ke wajahnya, suara tarikan nafas itu semakin nyata, menyusup ke telinganya, meresapi pori-pori wajahnya yang menegang. Marin yang berusaha menjerit minta pertolongan merasakan sesak yang luar biasa, ia seolah ditekan oleh beban yang sangat berat, melingkupi tubuhnya yang membeku dan terkapar di lantai.

*

“Marin!” wanita itu memanggilnya. Gadis itu bergerak menjauhi rumah, rambutnya tampak berkilauan dibawah matahari pagi yang menyelinap di antara rimbun pepohonan. Halaman berbatu dipenuhi daun-daun kering yang berserakan. “Kau mesti menunggu sampai papamu pulang sebelum berangkat, kau di sini baru dua hari.”

“Aku tidak pernah tahan berada di tempat ini!” ujar Marin nyaris menangis, mengangkat dan meletakkan tas kulit besar ke dalam bagasi mobil dan membanting penutupnya. “Aku tidak percaya mama dan semuanya merasa baik-baik saja tinggal di sini. Mahluk itu—mahluk apapun itu—berusaha membunuhku tadi malam.”

Ibunya menggeleng, tak tahu harus berkata apa. Marin mendekati wanita itu dan mencium pipinya dengan tergesa-gesa, lalu tanpa berkata-kata apa lagi, memasuki mobil dan berangkat.

Aura—di depan jendela kamarnya—mengamati mobil biru itu melaju melewati pintu gerbang, menyeberangi jalanan aspal dan bergerak lurus menjauh. Seorang berdiri di dekatnya, wanita berwajah pucat yang sedang menyisiri rambutnya dengan penuh kasih.

“Kau tidak akan pernah meninggalkan ibu, kan, sayang?”

Aura menggeleng, matanya terpejam, perasaan nyaman itu menyelubunginya. Saat serat sisir kayu menyentuh rambut dan kulit kepalanya, dan tangan-tangan dingin membelai tengkuknya.

*

“Dia masih memeloti benda itu?” tanya Ben khawatir. Ia dan Lina duduk di ruang tengah, mengamati Adam yang berdiri di beranda dengan memegang buku. “Kita harus melakukan sesuatu sebelum kakakmu benar-benar kehilangan akal sehat.”

“Menurutmu dia butuh psikiater atau semacamnya?” gumam Lina, mengelus punggung seekor kucing berbulu coklat keemasan yang melingkar di sofa.

“Aku lebih mempertimbangkan dukun,” kata Ben serius.

“Aku tak percaya dukun,” komentar Lina. Kucing itu melompat ke lantai dan meluncur menuju halaman. “Oris, jangan jauh-jauh!”

“Kucing itu akan baik-baik saja?” Tanya Ben.

“Baru saja kuberi suplemen,” sahut Lina membuka-buka majalah dengan cover warna-warni di pangkuan. “Nafsu makannya berkurang.”

“Apa Adam bernafsu memakan sesuatu belakangan ini?”

“Dia baik-baik saja,” kata Lina santai.

“Kau yakin? Dia jadi kurus begitu,” gumam Ben, melirik Adam yang masih berdiri di beranda.

“Anyway,” ujar Lina mendadak ingat. “Sebelum mulai mencemaskan kakakku lagi, kita harus mengklarifikasi satu masalah mendesak!”

“Aku tak mengerti,” gumam pria itu pasrah.

“Kau tak boleh pura-pura lupa untuk bayar ganti rugi empat kali lipat!” geram Lina. “Membayar ongkos makan siang di mall itu dengan menjual jam tangan kesayanganku? Aku malu sekali memikirkannya. Kakakku bahkan menjual kalung peraknya buat ongkos bensin. Oh Tuhan… kenapa aku harus menitipkan uang padamu? Kau yakin belum menemukan dompetnya dalam mobil!”

“Aku sampai mencabut semua jok-nya dan menggeledah setiap sudut, tapi dompetnya memang gak ada di situ,” kata Ben frustasi. “Aku curiga ada tuyul atau babi ngepet yang mencurinya.”

“Jangan mulai lagi! Pokoknya kau harus ganti rugi!” ujar Lina. “Gak peduli kau mesti kerja membanting tulang selama tiga tahun untuk melunasinya!”

Oris muncul lagi ke dalam ruangan hanya beberapa menit berselang, ia menyelinap lincah di antara kaki meja untuk mendekati sofa, tempat tiga orang remaja itu duduk. Lina yang wajahnya memerah karena emosi meraih si kucing. Ia meletakkannya di atas pangkuan untuk kemudian memekik dan melempar hewan itu ke lantai.

Oris melompat dan mendarat lincah dengan ke empat kakinya. Ia melepaskan sesuatu yang digigitnya sejak memasuki ruangan, benda berwarna hijau, terlempar ke lantai dalam keadaan menyedihkan. Mereka bengong mengamatinya, bangkai burung.

“Tingkah laku Oris semakin aneh,” desah Lina ngeri. “Kemarin pagi ia membawa bangkai tikus ke dalam dapur.”

“Itu sudah insting mereka berburu hewan-hewan kecil,” gumam Ben enteng, Adam mengamati antara dua manusia itu dan Oris. “Bukan hal yang gawat.”

“Kau tahu apa, eh? Mama marah besar—memarahiku tentu saja. Aku lah satu-satunya orang yang menandatangi surat pengadopsian Oris, kau ingat?”

“Kasihan dia,” gumam Ben, mengelus kepala Oris dengan mimik prihatin. “Pemilik-nya begitu sibuk mengurus diri sampai ia harus memakan bangkai burung untuk bertahan hidup.”

“Hey! Ingat kau berhutang padaku satu juta tujuh ratus lima puluh lima ribu lima ratus rupiah di tambah ganti rugi jam tangan kesayanganku seharga tiga ratus ribu. Totalnya dua juta dua ratus lima puluh ribu lima ratus rupiah,” ujar Lina dengan nada mengancam, ia mengecek catatan di handphone-nya. Dengan malas, Adam yang duduk di atas ujung sofa mulai membolak-balik diari bersampul hitam.

“Yah, apa hubungannya dengan keprihatinanku sama Oris?” kata Ben tak puas. “Lagi pula, kita sepakat kemarin bahwa hutangku cuma satu juta seratus tujuh puluh tiga ribu lima ratus rupiah, kenapa bertambah lagi?”

“Hutang itu berbunga, Ben,” ujar Lina, memerhatikan kuku-kuku jari tangannya yang baru dipotong. “Di mana-mana begitu.”

“Dalam sehari?” ujar Ben, menggeleng-geleng pasrah. “Kuulangi, dalam sehari?”
 “Kalian bertengkar seperti pasangan suami-istri,” celetuk Adam, membulak-balik halaman Diari.

Dua remaja itu seketika menolehnya.

“Nah,” desah Ben, alisnya terangkat. “Itu kalimat pertama yang diucapkan kakakmu sepanjang minggu ini. Bukankah itu pertanda baik?”

“Aku baik-baik saja, terimakasih,” gumam Adam, mengamati sampul diari itu sekali lagi dan meletakkannya di atas sofa. “Dan kalian jangan memandangku seperti itu—seolah aku baru muncul setelah diculik UFO selama berhari-hari!”

*

Aku tak boleh membaca diari milik orang lain, ini privasi, bathin Adam saat ia kembali ke kamar. Ia memandangi sampul buku itu untuk yang ke seratus kalinya dan meletakkannya ke atas meja. Lima menit kemudian—dengan rasa penasaran memuncak—Ia meraihnya kembali.

Tapi ayolah, baca sedikit saja, ini bukan tindakan kriminal! Sekali lagi ia memutuskan akan membuka halaman pertama, namun tangannya tak sanggup melakukannya.

Adam tiduran di ranjang, ia meletakkan diari itu sembarang di pinggir meja dan memejamkan mata. Seharusnya aku mengejar mobil itu dan menyerahkannya. Bodoh. Tapi siapa gadis itu? Kenapa ia tak asing di mataku?

Sepuluh menit setelah ia benar-benar mengantuk, sesuatu muncul dari pintu yang terbuka beberapa inci, sosok mahluk yang mengeong. Adam membuka matanya dan menoleh. “Hey Oris, kemarilah!”

Kucing berbulu coklat itu berjalan anggun mendekati kursi dan mengeong lagi. “Apa kau lapar? Kau mau aku mengambilkan sesuatu di kulkas?”

Adam memerhatikan kucing itu masih menjilat-jilati pinggiran bibirnya, ada remah-remah makanan tertempel di situ. “Kurasa tidak.”

“Aku lelah sekali, Oris,” gumam Adam, membalik tubuhnya dan memeluk batal guling. “Jika kau mau tidur siang di sini bersamaku, silahkan saja, asal jangan membuat keributan.”

Hanya semenit berselang, sesuatu jatuh berdebam ke lantai, tampaknya Oris baru saja membuat keributan.

Adam mendesah dan membalik badannya lagi untuk menemukan Oris berdiri di atas meja, menggoyang-goyangkan ekornya dengan gemulai. “Kemarilah!” Ia meraih kucing itu dan menurunkannya ke lantai, dan diari itu berada di sana, terbuka di halaman tengah. Adam tak sengaja melirik sebaris tulisan tangan bertinta hitam, berikut bercak-bercak darah mengering di kaki halamannya.

13 Maret 2004
“Aku gelisah, seminggu ini ibu tak datang, rambutku mulai kusut. Aku merasa aku akan mati …”

Kurasa ini saatnya, gumam Adam akhirnya, meraih buku itu dan membuka halaman pertama. Tulisan tangan itu rapi sekali, penulisnya tampak sangat hati-hati dalam merangkai kata, Adam mulai membaca.

11 February 2003
Ada saatnya aku begitu kesepian. Aku masih berada di sini, rasanya baru kemarin.

Saat mengamati langit kosong, segala sesuatunya masih terlalu menyedihkan, buram, aku merasa sudah kehilangan sesuatu, aku mencarinya, apa yang telah meninggalkanku. Kehadiran Ibu satu-satunya yang membuatku nyaman, dan mereka semua, anak-anak bermata merah, mereka menghiburku, tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal, aku masih kesepian…kadang kala.

Adam membalik halaman diari dan melanjutkan baca.

Ibu bilang, aku tak boleh ragu atas apa yang kurasakan. “Aku di sini untukmu, anakku, kita akan selalu bersama…” begitu beliau selalu bilang.

Aku berusaha memahami perasaan ini, ibu yakin semua baik-baik saja, dan aku menyukai saat-saat beliau menyisir rambutku sambil bersenandung, beliau ibu terbaik yang pernah kubayangkan. Namun…

Adam menghabiskan waktu sore itu dengan membaca halaman demi halaman diari itu. Ia masih merasa telah merampas privasi orang lain, namun pikirannya jadi mengembara dan sedikit demi sedikit memori samar berkumpul di kepalanya.

Oris muncul kembali dari pintu satu jam kemudian. Suaranya memecahkan keheningan.

“Apa maumu, Oris?” tanya Adam, bangkit dari kursinya dan mendekati mahluk itu. “Jangan menatapku seperti itu!”

Adam mengamati kucingnya dan mendesah lega. “Hei lihat, kau dapat belalang. Ini hasil buruanmu hari ini?”

Pintu di hadapannya menjeblak terbuka, Adam dan Oris nyaris melompat saking kagetnya. “Di sini rupanya Oris, aku harus memastikan dia divaksinasi sebelum aku sibuk sebagai panitia di kampus selama dua minggu ke depan.”

Lina mengangkat mahluk itu sebelum melirik kakaknya. “Besok kau akan kuliah, kan?”

“Masih libur,” ujar Adam malas. “Eh, kalau ketemu Ben, suruh dia ke sini.”

“SMS saja, aku tak begitu suka mahluk itu bergentayangan di dalam rumah,” sahut Lina, bergerak ke luar ruangan.

“Belikan aku pulsa!” seru Adam, Lina tak menyahut.

Remaja itu kembali mendekati meja dan duduk, hal-hal yang mengganggunya masih-masih berputar di kepalanya. Ia bangkit menghampiri jendela dan membukanya. Angin kencang berhembus masuk, mengangkat tumpukan kertas diari yang ringan. Halaman buku itu pun terbalik-balik, hingga terhenti di halaman terakhir, Adam mencondongkan kepalanya dan mengamati, selembar kertas terselip di antara pembatas sampul, kertas berwarna biru muda yang telah usang. Adam mengambilnya hati-hati dan membuka lipatannya. Sebuah surat.

Dear Aura,
Bagaimana khabarmu? Maaf jika kau tak berkenan dengan cara seperti ini. Aku tak pernah bisa mengungkapkan sesuatu begitu berhadapan denganmu, aku hanya ingin kau memahaminya. Dan aku minta maaf mengenai apa yang kulakukan hari sabtu saat pembagian rapor, bukan maksudku untuk melakukannya, tapi itu karena ulah teman-teman, mereka mengolok-ngolok sehingga aku terpaksa menjauhimu. Sebenarnya aku ingin sekali mengenalmu, Aura, tolong maafkan.
Aku mendapatkan alamat rumahmu dari Bu guru Marsita, dan aku tahu liburan akan berakhir beberapa minggu lagi. Jadi, tolong balas surat ini dan beritahu aku nomor telepon rumahmu. Mungkin aku tak pandai berbicara, tapi aku akan mencoba untuk mengobrol denganmu di telepon.
Aku ingin mengenalmu Aura.

Salam sayang,

Bagian bawah surat tampak robek sehingga tak diketahui siapa pengirimnya, namun setelah beberapa detik ia meletakkan kertas itu di atas ranjang dengan jantung berdebar keras. Memorinya terjaga. Adam mengenali tulisan tangannya sendiri.

*

Adam langsung menyeret Ben ke ruang tamu saat remaja itu berkunjung keesokan harinya. Ia pun menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan semalaman hingga tak bisa tidur.

“Kau bilang apa tadi?” Ben bertanya, ia sulit mencerna kata-kata sahabatnya.

“Aku dan pemilik diari ini pernah satu sekolah saat SMP,” sahut Adam untuk ketiga kalinya.

Buku yang sedang dibicarakan tergeletak di atas sofa, sampul hitamnya mengilat memantulkan cahaya matahari pagi yang menyorot melewati jendela.

“Aku berusaha memahaminya,” kata Ben berpikir. “Tapi, bagaimana kau yakin?”

Adam menimang-nimang sebentar sebelum memberikan bukti itu. Ia mengambil lipatan kertas dari balik halaman buku diari dan memberikannya kepada Ben. Remaja itu menerima dengan curiga.

“Apa ini?” tanyanya.

“Aku menemukannya terselip di dalam diari. Buka dan baca,” instruksi Adam. “Dan kau akan memahami apa maksudku.”

Ben tampak tidak yakin dengan apa yang digenggamnya, seolah sesuatu yang sedang berlangsung adalah lelucon untuk mengerjainya.

“Sini, biar aku yang melakukannya,” sahut Adam cepat-cepat dan mengambil kembali lipatan kertas itu dari tangan Ben. Ia mulai membukanya dengan hati-hati seolah benda itu adalah peninggalan bersejarah yang sangat rapuh.

“Aku akan membunuhmu kalau kau merobeknya sedikit saja!” ancam Adam setelah menyerahkan surat itu. Ben menerima dan mengangguk dengan patuh.

Ia memasang tampang serius saat mulai membaca, matanya bergerak mengikuti alur tulisan. Ben mulai mendesah kebingungan sepuluh detik berjalan, dahinya pun mengerut. Kerutannya semakin parah begitu matanya menyusur ke bawah halaman surat. Kemudian, setelah satu menit, Ben mengangkat kedua alisnya dan mendengus tertawa.

“Apanya yang lucu?” tanya Adam tersinggung. Ben terguling-guling di sofa, tertawa terpingkal-pingkal.

Ia bangkit, masih tertawa. “Kau menulis ini?”

Adam merampas kembali kertas itu.

“Aku tak pernah melihatmu pacaran selama ini,” kata Ben menekan perut, tawanya semakin menjadi-jadi. “Rupanya kau menghabiskan masa-masa itu saat SMP.”

“Dengarkan aku!” ujar Adam serius. “Ini masalah yang sangat seius. Jika kau tak ingin mendengarkan, pintunya masih terbuka buat kau angkat kaki dari sini! Dan aku akan ikut jejak Lina—menuntutmu atas apa yang sudah terjadi beberapa hari terakhir ini.”

“Baiklah—baiklah, apa yang harus kulakukan?” kata Ben, menyeka air mata.

“Kau harus mengantarku ke kota itu lagi!” kata Adam tak sabar. “Diari ini harus berada di tangan pemiliknya.”

“Tapi, bagaimana caranya kita menemukannya?” tanya Ben, menggeleng-geleng tak yakin. “Dia bisa siapa saja dan tinggal di mana saja!”

“Ben, dengarkan aku!” ujar Adam tajam. “Aku harus menemuinya. Gadis ini dalam bahaya!”

Advertisements

One thought on “Aura #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s