Potret


(Reposted. Cerpen lama, tahun 2009 kurasa. Kisah macam ini mungkin sudah pernah diceritakan orang-orang lain, tapi aku dulu merasa harus menulis juga.)

bye_buddy_by_hozzo-d3g8do2

Puluhan wajah familiar bertebaran di sekeliling saat aku melangkah di koridor menuju ruang keluarga. Foto-foto bersejarah dalam pigura kayu menempel di sepanjang tembok putih berdebu, banyak terserang jamur dan pudar digerogoti waktu.

Aku berhenti di ujung koridor untuk mengamati potret hitam-putih kakek dan buyutku, juga beberapa gambaran masa kanak-kanak ayah, membuatku tersenyum. Sebelum akhirnya aku sampai di pintu menuju ruang keluarga, satu pigura di tepi tembok sepertinya sudah diambil, meninggalkan jejak petak segi empat, lebih terang dari bagian tembok yang lain.

Kakekku kutemukan sedang duduk di sofa kesayangannya, bermandikan cahaya keemasan dari perapian. Beliau menghabiskan masa mudanya di London, selama beberapa tahun. Sekembalinya ke Indonesia kakek bertemu dengan nenek dan menikah. Selain itu, tak banyak lagi yang aku ketahui.

Ruangan ini sangat bergaya Eropa dengan panel-panel kayu bercat putih, wallpaper bercorak daun musim gugur, tiga rak kayu penuh buku-buku di dinding kanan, lalu lukisan pemandangan sungai Thames yang besar sekali terpaku di atas perapian batu. Saat musim penghujan atau cuaca dingin, perapian yang beliau disain ini akan menunjukkan satu fungsi. Atau setidaknya, bagi kakek, dengan perapian ini sedikit kenangan akan London akan menyertai selama sisa hidupnya.

Nenekku meninggal karena sakit tiga tahun yang lalu. Kakek tidak pernah tahu kondisinya. Mereka tak tinggal serumah lagi sejak begitu lama, bahkan sebelum kedua orang tuaku menikah. Kakek dan nenek tak pernah bercerai atau yang semacamnya. Kata ayah, mereka bahkan tak bertengkar hebat. Jadi tiba-tiba saja pada suatu hari nenek mengemasi barang-barangnya dan pergi ke rumah kerabatnya di Bogor. Perpisahan mereka merupakan misteri bagi semua orang.

Saat liburan tiba kami sekeluarga biasa mengunjungi kakek atau nenek, bergantian. Namun aku sendiri lebih suka berada di rumah ini karena kakek punya banyak hal-hal menakjubkan untuk diceritakan. Beliau adalah pendongeng terhebat yang pernah kuketahui. Aku masih ingat, liburan tiga tahun silam beliau bercerita tentang Horyan, anak pemberani yang berlayar mengelilingi samudra atlantik untuk menemukan ayahnya. Anak ini pernah berenang bersama paus, terdampar di pulau sunyi dan bertemu kawanan perompak. Kakekku pernah bercita-cita untuk menuliskan kisah ini, namun beliau mengaku tak punya cukup tenaga untuk itu.

“Maukah kau menuliskannya untuk kakek?” beliau berkata suatu saat, setengah berkelakar.

“Aku harus belajar menulis lagi kurasa,” kataku tersenyum.

“Banyak-banyaklah membaca buku,” selalu begitu sarannya, lalu beliau tertawa dengan kaca mata persegi bergetar di atas hidungnya.

Hari ini, seminggu sebelum aku menikah, di sinilah aku berada, mengunjungi kakek lagi. Seperti biasa, beliau menungguku di depan perapian dengan mata setengah terpejam. Aku sudah menelponnya seminggu lalu, mengabari rencana pernikahanku. Beliau sangat antusias, meski belum pernah bertemu calon suamiku.

“Irishku tersayang,” gumamnya, meraih tanganku. Suaranya bergetar dalam, aku senang sekali mendengar suaranya.

Kakek pernah bercerita pada ayahku, bahwa dulu beliau pernah bertemu dengan gadis penjual bunga di jalanan kecil di tengah kota London. Gadis bernama Irish itu hanya memiliki satu kaki. Sepanjang hari ia duduk saja di sana, menawarkan beberapa ikat bunga mawar seharga setengah pound kepada para pejalan kaki. Dari gadis inilah kudapatkan namaku.

“Kangen sekali sama kakek,” kataku, duduk di sofa persis di sampingnya, tangan kami masih bergenggaman. Beliau tersenyum hangat.

“Kudengar gadis kecilku akan berumah tangga,” katanya mengangkat alis. Aku mengangguk tersipu. “Kita harus merayakan dengan segelas coklat. Nah, ini dia.”

Bibi Tyas, wanita yang merawat kakek selama ini masuk ke dalam ruangan, membawakan kami dua gelas coklat hangat.

“Selamat malam,” sapanya ramah, menyerahkan minuman kepada kami

“Selamat malam Bi,” sahutku, “Terimakasih, sudah sangat merepotkan.”

“Ah, santai saja,” kata bibi, menepuk pundakku lembut.

“Tidak bergabung bersama kami, Tyas?” gumam kakek mengernyit.

“Tidak kurasa,” kata wanita setengah baya itu, melirik jam dinding model bandul yang berdiri di sudut ruangan, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. “Sudah cukup larut malam, saya harus tidur lebih awal. Besok pagi harus memasak dan mengantar anak-anak ke sekolah,” akunya. Setelah mengulas senyum kepada kami, ia pun bergerak meninggalkan ruangan.

“Oke baiklah, mari-mari kita meminumnya selagi hangat,” gumam kakek, mengangkat gelasnya.

Gelas kami berdenting saat bertemu. “Cheers!”

Cairan hangat dan manis mengalir di tenggorokanku. Ini merupakan minuman favorit kami. Kakek selalu bilang bahwa coklat meningkatkan daya imajinasi, aku selalu percaya apapun yang beliau katakan.

Setelah menenggak minumannya sendiri, beliau meletakkan satu foto ke atas pangkuannya—foto dalam figura berkaca yang sedari tadi dipeluknya dengan satu tangan. Aku memerhatikan gambar hitam-putih itu, memperlihatkan kakek yang puluhan tahun lebih muda, berdiri dengan memeluk seorang pria di sampingnya. Keduanya memakai jaket tebal dengan pemandangan air mancur beku di latar belakang.

“Namanya George,” tutur kakek lirih. Mata kakek tertuju padaku sebentar sebelum memandang perapian dengan mimik sayu. Kilasan api terpantul di kedua matanya. “A friend of mine. I am missing him so much…”

Wajah itu berubah sendu, kedua matanya perlahan berair. Ujung-ujung jemarinya yang bergetar menelusuri bingkai kayu yang mengelilingi potret. Belum pernah selama ini aku melihat beliau begitu sedih. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat hatiku trenyuh, tak terasa air mataku meleleh.

“What’d happened?” gumamku, meraih tangan beliau yang lembut dan keriput.

“Bulan Mei tahun 1950, saat kakek kembali ke West End dan tersesat, terjadi demonstrasi besar-besaran di sana. Ribuan orang berkumpulan di Trafalgar Square, membawa spanduk-spanduk dan plakat bertuliskan ‘Peace’ dan ‘Stop War in Malaya!’ Di sanalah kami bertemu. George menghampiriku dan mengajak ngobrol. Dia juga tersesat, ia dan keluarganya baru saja pindah dari Bexley.

“Kami sering bertemu sejak saat itu. Di alun-alun kami selalu duduk di tepi air mancur hanya untuk berbincang-bincang, atau memberi makan burung-burung dara. George memaksaku menjelaskan banyak hal. Dia penasaran sekali dengan cara hidup orang Asia, lama juga dia pikir kakek berasal dari Thailand.”

Aku tersenyum mendengarkan, kulihat kelegaan yang luar biasa di wajah beliau.

“Bersamanya kakek menemukan hidup yang sesungguhnya. Itu adalah masa-masa yang sangat indah.

“Saat Ibu kakek meninggal karena sakit,” lanjutnya, “George berada di sana menemaniku, sepanjang hari, sepanjang minggu. Kakek merasa bersyukur sekali bisa bertemu dengannya.”

Lama sekali beliau diam sebelum melanjutkan kisah mereka, sungai memori itu mengalir deras, aku ikut hanyut.

“Bulan Desember tahun itu, George pun mengungkapkan perasaannya. Kami duduk berdua, bergenggaman tangan sambil menikmati lampu-lampu yang menghiasi pohon Natal raksasa,” gumamnya, memejamkan mata. Aku menyandarkan kepala di lengan kakek, membayangkan suasana itu, wajah pria yang kusayangi berhambur di udara, desir kerinduan menyusupi pori-pori kepalaku.

Aku meminta ijin untuk melihat potret dalam genggamannya. Beliau memberikannya dan melanjutkan.

“Musim dingin yang agak berat,” gumam kakek saat kuamati potret itu. “Dua hari sebelum Natal kami belanja banyak kepada para keponakan. George mengajakku ke kampung halamannya di Bedworth untuk berlibur.”

Oh, mereka berdua tampak sangat bahagia.

“George tampan sekali,” gumamku tersenyum. Pria itu sangat jangkung, berambut pirang panjang sebahu, sementara kakek berambut ikal pendek. “Kalian berdua sangat tampan.”

Kakek membelai rambutku dan tertawa pelan.

Lama juga kupandangi potret itu, sementara kakek meminum coklatnya lagi.

“Lalu apa yang terjadi, kek?” tanyaku lima menit berlalu. Inilah puncaknya, kakek mungkin merasa sudah saatnya seseorang mengetahui rahasia yang beliau pendam selama bertahun-tahun. Beliau selalu percaya padaku.

Kakek mengalihkan pandangan ke perapian lagi, lalu kedua matanya menutup rapat, dia kelihatan berusaha untuk tidak menangis. “Pada tahun 1951 epidemik flu menyerang Inggris, berawal dari Liverpool lalu menyebar ke seluruh negeri. George terinfeksi saat kami berlibur ke Waltham Forest pada bulan Oktober setahun kemudian. Dia meninggal karena pneumonia.”

Kakek pun tak bisa membendung air mata. kugenggam erat tangannya saat beliau menangis.

“Aku tak bisa menyelamatkannya, Irish. George sangat lemah, dia menderita flu berat dan batuk-batuk,” gumam kakek terisak, kepalanya menggeleng sedih. “Oh Tuhan…”

Aku ikut menangis bersamanya.

“Kehilangan dirinya membuat hidup kakek runtuh, semua harapan sirna, kebahagian lenyap. Kakek sempat berpikir untuk melakukan hal-hal bodoh. Namun George datang lewat mimpi seminggu setelah dia dimakamkan. George muncul dari kegelapan, memakai kemeja, jaket dan bowler hat yang sama ketika kami bertemu di Trafalgar Square dua tahun sebelumnya. Dia meraih tangan kakek dengan lembut dan mengajak duduk di tepi kolam air mancur. George berbisik nyaring, kakek masih ingat betul suaranya, ‘Takkan lama’ ia berkata, ‘aku berjanji …’

“Lima puluh lima tahun lamanya George bersemayam di hatiku, Irish,” kata kakek menunduk. “Tiada semalampun untuk kakek berhenti memikirkannya. Namun kakek harus melanjutkan hidup. Kakek punya tanggung jawab itu.”

“Lalu kakek kembali ke Indonesia?”

“Iya, lima tahun setelah kepergian George, kami sekeluarga kembali ke tanah air. Kakek bertemu nenekmu di Jogjakarta dan menikah hanya seminggu setelah kami berkenalan,” katanya. “Buyutmu yang mencetuskan ide ini, mungkin karena beliau menyadari sesuatu.”

“You didn’t love her, did you?” lama sekali aku menimang-nimang pertanyaan ini sebelum mengungkapkannya.

“Ehm… Not that kind of love,” ujarnya tersenyum, mengambil beberapa potong kayu dan melemparnya pelan ke dalam perapian. Api melahapnya perlahan dengan bunyi ‘tik-tik’ kecil. “Cinta saja tak cukup, Irish, tak pernah. Namun kami berhasil melaluinya, meski kenangan akan George mengikuti kemanapun aku pergi. Kau pasti paham, kebersamaan kakek dan nenek tidak berjalan lancar, hidup kami hambar. Kakek merasa sangat bersalah. Nenekmu adalah wanita yang sangat baik…”

“Aku mengerti,” kataku, mengangguk pelan. Tentu saja aku memahami perasaan beliau. Hidup berkeluarga dengan seseorang yang tak pernah dicintai, itu bukan keputusan yang bijaksana, namun seseorang menghadapi tuntutan sosial tertentu dan harus tetap memilih, bahkan di antara beberapa pilihan yang tak menyenangkan. “Setidaknya sekarang aku tahu, kakek sudah mencoba dengan sebaik-baiknya. Kakek sudah begitu menderita. Kehilangan seorang yang sangat disayangi, aku tak bisa membayangkan betapa beratnya itu.”

Kakek hanya mengangguk perlahan, beliau meraih potret itu dari tanganku dan meletakkannya di atas meja dengan hati-hati. Posisi pigura itu menghadap kami, kaca yang melapisinya berkilauan memantulkan cahaya dari perapian.

“Berbahagialah Irish,” begitu gumamnya sebelum memejamkan mata. “Seperti apa yang kakek dan George rasakan, meski dunia membaginya pada kami dengan begitu singkat.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s