The Night Walkers


Terlentang dengan selimut masih terlipat rapi di tepi ranjang, Roni membuka matanya perlahan, mengamati langit-langit kamarnya yang gelap. Beberapa kali ia membalik posisi tidurnya dan mengerang gelisah. Ia sedang menunggu sesuatu, sudah berhari-hari, ia terlalu lama menunggu.

Untuk ketiga kalinya malam itu ia melirik ke samping ranjang, jam di atas meja menunjukkan pukul dua pagi, rasa kantuknya hilang.

Ia pun bangkit dan melangkah menghampiri jendela. Anak laki-laki itu sedang memandang halaman berumput saat suara tarikan nafas berat mengagetkannya. Ia menoleh ke belakang untuk menemukan sesuatu berkelebat. Cahaya lampu kamar menyinari sosok hitam tanpa wajah yang berdiri di dekat lemari pakaian. Bahu mahluk itu bergerak naik-turun, suara nafasnya pendek dan letih.

Mahluk itu mulai bergerak pelan mendekatinya. Ia berjalan melewati ranjang dengan mudah, meninggalkan tebaran asap-asap hitam di belakangnya. Ia meraih lengan Roni dan bersama-sama bergerak tenang menembus dinding, menuju halaman.

Di luar langit terang pucat, bersih berbintang. Rumput, semak dan pepohonan diterpa cahaya rembulan—nyaris purnama. Roni dan mahluk itu berhenti di ujung halaman, tepat di pinggir semak tinggi.

Roni memandang berkeliling dan menunggu. Mahluk yang menjemputnya masih berdiri di dekatnya, sinar bulan menembus tubuhnya yang bergetar.

Dua tangan hitam menyeruak dari dalam semak, meraih tubuh Roni dan mengangkatnya ke udara. Tangan-tangan itu luar biasa besar dan berbulu, seperti tangan gorilla raksasa. Tubuh mahluk itu pun muncul seutuhnya di udara terbuka, perlahan-lahan seolah ia sedang berusaha mengumpulkan tenaga. Kaki-kakinya yang besar panjang menjejak tanah, berusaha menopang badannya yang diliputi bulu-bulu hitam lebat dan kasar. Tangannya masih membuat anak itu melayang-layang di udara ketika kepalanya mencuat dari badannya seperti balon yang ditiup, kepala itu sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, namun ia memiliki dua mata kuning yang menyala-nyala, sementara hidung dan mulutnya tak tampak. Baru setelah mahluk itu berdiri dengan baik, ia pun menurunkan Roni di atas pundaknya yang bidang dan lebar.

Mahluk itu tampak semakin tinggi saat ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Roni memandang ke halaman untuk menemukan mahluk yang tadi menjemputnya, namun ia tak melihatnya di manapun. Sesaat sebelum ia berangkat, ia hanya melihat anjing hitam kurus duduk sendiri di dekat jendela kamarnya.

Dengan Roni berpegangan di atas pundak mahluk besar itu, mereka pun melangkah melewati pepohonan menuju ke arah timur. Semak-semak dan rumput tak bergeming oleh pijakan kakinya.

Beberapa mahluk lagi bergabung bersama mereka. Mereka bermunculan dari semak-semak dan dari balik pepohonan. Roni berpegangan erat di leher mahluk itu, angin dingin mendesir menerpa wajahnya, senyumnya mengembang, ia tidak lagi ngeri. Seperti malam-malam lalu, ini saat yang dinantikannya

Roni senang sekali perjalanan ini, mereka kini melangkah menelusuri ladang jagung yang terhampar luas, berhektar-hektar. Di Langit barat bulan purnama bercahaya terang, beberapa baris awan tipis meleret dengan bintang-bintang berkerlip di sekitarnya. Lebih dari tiga lusin mahluk besar bergerak bersama-sama mengarungi malam, menembus angin yang berhembus kencang, Roni yang tak memakai jaket kedinginan, namun ia sangat menikmati segala sesuatu di sekelilingnya.

Mereka berjalan terus tak mengenal lelah, melampaui hamparan sawah, menyeberangi sungai deras, melewati rumah-rumah penduduk desa yang tengah tertidur, mendaki bukit dan tebing lalu memasuki hutan-hutan gelap. Semakin banyak mahluk yang mengikuti perjalanan mereka. Mahluk-mahluk serupa monyet yang bersembunyi di balik gua melompat-lompat di sekitar mereka. Ular besar yang melilit erat pada sebatang kayu mulai bergerak turun dan merayap mengikuti. Para harimau hitam dan loreng menggeram-geram lalu berlari di belakang mereka.

Kelelahan menghampiri anak itu setelah beberapa jam perjalanan. Ia mulai menelengkan kepalanya dan tertidur. Bulu-bulu di sekitar pundak mahluk itu pun memanjang dan merayap, mengikat dan menutupi tubuh sang penumpang sehingga ia tidak jatuh. Malam masih sangat panjang, mereka akan kembali ke tempat masing-masing dan beristirahat saat nanti matahari kembali berkuasa.

***

Cuplikan ini diambil dari naskah yang tak pernah kuselesaikan “Aura”

Advertisements

2 thoughts on “The Night Walkers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s