Putra Fajar


Dia yakin telah memahami dunia; neraka yang sebenarnya.

Fajar berharap ayah dan ibunya tahu siapa dia sesungguhnya di balik kulit. Remaja itu berharap semua akan berjalan mulus dan orang tuanya akan tetap menyayangi dia apa adanya.

“Kau harus berani. Hidup dalam kebohongan itu menyakiti dirimu sendiri dan orang-orang yang tulus menyayangimu,” seorang teman memberitahunya. “Jangan bersusah payah membuat mereka mengerti dirimu, mereka sendiri yang harus berusaha memahamimu.”

“Kau pasti malaikat yang diturunkan Tuhan padaku,” sahut Fajar mengangkat alis, “… malaikat pencabut nyawa.”

Fajar mulai mengkonsumsi Xanax untuk membantunya tidur, Asih mengantarnya ke dokter karena cemas dia cepat panik dan tidak sanggup beristirahat. Beberapa malam sebelumnya dia hanya bisa berbaring di ranjang, menangis, gelisah dan berspekulasi tak pernah henti. Pertanyaan-pertanyaan membelit pikirannya; apakah ibunya sudah tahu? Apakah ayah akan baik-baik saja kalau dia bicara? Apakah dia berlumur dosa?

Fajar berumur 16 tahun, ia adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya telah menikah dan memiliki seorang anak, sementara adik perempuannya masih bersekolah di tingkat dasar. Ayah Fajar mengelola toko furniture dan ibunya membuka usaha katering di rumah. Dibesarkan di keluarga Katolik yang kuat membuat Fajar berpikir keras untuk berdamai dengan dirinya, terutama karena merasa lahir berbeda.

“Please, kau tidak mengenal ayahku,” kata Fajar muram. “Beliau berwatak keras dan pola pikirnya sangat tradisional, aku yakin beliau tak pernah mendengar masalah begini seumur hidupnya.”

“Jangan menyebut ini masalah!” protes temannya. “Siapapun dirimu sekarang, itu sangat alami, dan kau tidak sendirian! Tunggu sampai kau cukup umur, kau pasti akan heran bertemu orang-orang brilian seperti dirimu banyak di luar sana.”

“Tak ada yang tertarik padaku,” sahut Fajar muram, “aku pernah berupaya mendekati beberapa orang di sekolah, semuanya menghindar seolah aku menderita kusta.”

Asih menggeleng, “mungkin caramu yang salah.”

“Entah.”

“Pertama, untuk berdamai dengan hatimu, cepat kau putuskan untuk memberi orang tuamu,” kata Asih lagi mengingatkan.

“Saat ini aku belum tahu. Biarkan aku memikirkannya dulu sebelum mengambil keputusan. Ini sangat besar untukku.”

Fajar pergi ke gereja minggu pagi keesokan harinya untuk menghadap Tuhan langsung. Saat masuk ke ruang pengakuan dosa, seorang pastur memberitahunya untuk mengikuti hati nurani, Fajar juga mesti siap dengan segala resiko. Pastur itu bernasehat, “Kuatkan dirimu, bapa tahu bagaimana kemungkinan reaksi orang tua tentang ini, mungkin kamu harus menunggu beberapa tahun lagi, saat kamu sudah dapat berpikir jernih dan lebih memahami kehidupan dari berbagai sisi.”

Namun Fajar sudah memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama lagi.

*

Botol Xanax dan Valium itu telah kosong, Fajar berbaring miring, memandanginya lama-lama lalu memejamkan mata, dan membukanya lagi setelah lima detik berlalu. Ia menunggu pikirannya untuk beristirahat dan melupakan kesedihan yang larut.

Gerakan di luar membuatnya menoleh, seekor kucing hitam berjalan anggun di atas pagar balkon, berhenti di tengah dan memandang Fajar. Mata mahluk menyala memantulkan cahaya lampu kamar. Mereka saling menatap selama beberapa saat, sebelum Fajar memejamkan mata lagi, kini untuk terlelap dalam.

Fajar merasa letih luar biasa saat terbangun. Cahaya putih yang pucat menerobos kaca jendela, seakan bukan matahari yang bersinar di luar. Dia menyadari pintu menuju balkon sudah terbuka, gorden putih tipis di antaranya terhempas lembut, angin sejuk menyebar masuk ke dalam ruangan, Fajar merapatkan selimutnya, dan dia telanjang.

Fajar tak ingat bagaimana ia bisa melepaskan seluruh pakaiannya dalam semalam dan melanjutkan tidur. Meski sangat letih, dia berupaya bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia memandang tangannya yang lemas terjuntai di paha, tubuhnya yang kurus, betisnya yang putih pucat dan jari-jari kakinya berkuku agak panjang.

Fajar mengangkat kepalanya lagi dan matanya tertuju pada siluet seorang pria yang berdiri di balkon, memunggunginya, beberapa detik lalu ia tak ada di sana. Sosok itu seorang pria dewasa dengan postur tinggi, tak menggunakan satupun pakaian, sama seperti dirinya. Tubuh pria itu putih terang, berambut hitam tersisir rapi. Fajar segera merebahkan diri lagi ke ranjang saat pria itu akan berbalik menghadapnya.

Fajar buru-buru membalik tubuhnya, meraih selimut dan memandang ke arah lain. Bayangan pria itu di tembok menunjukkan kalau ia sudah berjalan masuk ke ruangan dan mendekatinya. Fajar pun merasakan orang asing itu duduk di ranjang di dekatnya, membuat jantungnya berdebar-debar kencang.

Siapa dia? Bagaimana ia masuk ke sini?

“Fajar,” bisik pria itu, suaranya sangat lembut, mirip suara kakak laki-lakinya. Remaja itu sekarang merasa lebih tenang. Dengan malu-malu dia membalik badan dan menemukan pria asing itu sedang memandangnya, mereka sangat dekat.

Dia mahluk terindah yang pernah dilihat Fajar seumur hidupnya. Ia sangat yakin bahwa pria yang dilihatnya ini bukan manusia biasa. Orang asing ini memiliki wajah sempurna, ia pria impian yang selama ini ada di benaknya. Tampan berkarisma, beralis tegas, bibir yang tersenyum ramah, mata coklat yang menatap hangat dan lembut.

“Kamu siapa?” tanya Fajar akhirnya. Dia menganggap pertemuan ini hanya ada di dalam pikirannya, dia tampak terlalu indah sebagai seorang yang nyata.

“Aku tak bernama,” kata pria itu. “Aku mungkin hanya bagian dari partikel-partikel kecil yang menggerakkan alam semesta.”

Fajar mengamati wajah pria itu dengan seksama, menikmatinya, merasakan hangat yang membuncah di dalam dadanya. “Bagaimana kau ke sini? Apakah kau malaikat yang datang untuk menjemputku?”

“Di sini aku hanya meminjam segala sesuatu. Dingin, hangat, kesedihan, kebahagian semua terasa asing, dan sekarang aku ingin meminjam pikiranmu dan namamu.”

“Kau bisa memakai namaku. Aku akan baik-baik saja tanpa nama.” kata Fajar.

“Berarti sekarang aku bernama Putra Fajar” sahut pria itu memejamkan mata, seakan ini sangat menenangkan dirinya.

“Kalau kau hanya muncul di pikiranku, apa itu berarti aku akan segera meninggalkan dunia?” tanya Fajar.

“Jika ini jalanmu, tentu,” sahut Sang Putra Fajar tersenyum. “Tapi kurasa kau masih bisa berpikir lagi dan mengubah keinginanmu nanti, sementara itu kita bisa berbincang-bincang.”

Fajar masih mamadangi wajah pria asing itu. Selama beberapa detik terbesit sesuatu di pikirannya, dengan sedikit rambut di dagu, pria itu akan sempurna sekali.

“Apakah saat aku menciptakan tubuhmu berarti pikiranku juga menciptakan perkataanmu?” saat Ia berkata begitu, Sang Putra Fajar menumbuhkan jenggot tipis di dagunya. Fajar terpesona.

“Iya dan tidak,” sahut Sang Putra Fajar. Tubuhnya diam tak bergerak, Fajar bahkan tak melihat bagaimana ia bernafas. Pria itu seperti gambar proyeksi yang utuh. “Pertama kau harus paham, kehidupan terdiri dari lautan pikiran, saling bersentuhan. Mereka begitu kuat, bahkan bertahan melewati kematian, namun mereka kembali lagi untuk melupakan siapa diri mereka. Hidup dan belajar adalah satu hal, kemudian ia pergi untuk melupakan lagi. Namun apa yang sudah kau ketahui masih di sana bersamamu.”

“Itu berarti aku sedang melupakan siapa diriku,” kata Fajar.

“Kalau kau berhenti sekarang, kau melewatkan satu kesempatan untuk memahami,” kata Sang Putra Fajar. “satu kehidupan, kau memahami satu hal, lalu ada lagi yang lainnya. Saat kau sudah mengumpulkan semuanya, dunia ini bukan lagi untukmu.”

“Aku tak sanggup,” kata Fajar, menatap langit di luar jendela. “Aku meminta kepada Tuhan untuk diberikan kesempatan yang lain, aku ingin hidup seperti orang-orang biasa, aku tidak ingin berbeda.”

“Setidaknya kau bisa melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Sementara keberadaanku tak terlalu mengandalkan Tuhan, iya tidak?” kata Sang Putra Fajar hampir tertawa, “Ah, begitu kau menyebut Dia?”

“Iya,” sahut Fajar mengangguk. “Apakah berarti kau bukan malaikat?”

“Aku tidak ada saat kau tak ada, Fajar,” kata pria itu.

“Aku merasa waktuku semakin pendek, tubuhku terasa sangat lemah.”

“Teruslah bertanya dan berbicara maka aku akan menemanimu. Kurasa belum terlalu terlambat,” kata Sang Putra Fajar.

“Aku tidak mengerti kenapa orang tuaku tidak menerimaku,” lanjut Fajar, kini mengamati dada Sang Fajar yg mulai menumbuhkan rambut tipis begitu dia memikirkannya. “Berpura-pura menjadi orang lain sangat menyiksaku. Mama dan Papa menyuruhku untuk berdoa dan memohon pengampunan Tuhan karena pikiranku yang kacau. Aku tak pernah memilih jalan ini, demi apapun, aku tak pernah menginginkannya.”

“Mungkin orang tuamu merasa tercerahkan dengan cahaya yang menyilaukan dari atas, mereka perlu memicingkan mata untuk melihat segala sesuatu, mereka bahkan tak sanggup melihat hati seorang anak. Kau, Fajar, tak ada cahaya yang terlalu terang mengacaukan pandanganmu sekarang. Saat kau merasa terlalu gelap? Kau hanya perlu diam atau temukan sendiri obor untuk melanjutkan perjalanan.”

“Aku tak melihat jalan di manapun,” sahut Fajar muram. “Aku hanya ingin mengakhiri ini semua.”

“Jalan itu di sana, persis di bawah kakimu,” sahut Sang Putra Fajar meyakinkan. “Obor juga bersamamu setiap waktu.”

“Hidupku hancur, wahai Putra Fajar. Orang tuaku tak menerimaku lagi,” kata Fajar muram. “Ayah bahkan tak mau menatap mataku saat mengusirku dari rumah. Aku tak memiliki siapa-siapa. Untuk apa aku hidup?”

“Aku tahu kau berniat meninggalkan tubuh itu,” kata Sang Putra Fajar. “Kau memiliki hak untuk melakukannya. Bahkan orang tuamu tidak berhak atas tubuhmu dan pikiranmu, semua yang kau punya adalah milikmu saat ini.”

Seekor burung nuri berwarna biru terbang masuk ke dalam kamar, dia berputar di atas mereka lalu hinggap di pundak Sang Fajar. Burung itu seakan membisikkan sesuatu padanya. Pria itu tersenyum lagi, matanya coklatnya bercahaya.

“Dia bilang kau memiliki sesuatu,” kata Sang Putra Fajar. Si burung nuri memandang Fajar dengan teliti sebelum mengepakkan sayap dan meninggalkan mereka. “Ia mutiara tersembunyi di dalam sana.”

“Apa itu?” Tanya Fajar.

“Aku tidak tahu, hanya kau yang tahu,” kata Sang Putra Fajar, mengangkat bahu. “Sekarang mari kita tinggalkan dulu kecemasanmu. Bagaimana dengan bermain musik? Aku suka sekali bermain musik. Kau menyukai instrumen apa?”

“Aku hanya bisa menikmati musik,” kata Fajar mengernyit. “Aku belum pernah menyentuh gitar atau apapun, namun keinginan itu ada.”

“Bagus,” sahut Sang Putra Fajar. Ia segera mengangkat tangan kanan dan menjentikkan jarinya dengan anggun, lalu gitar akustik tercipta dalam genggamannya. Fajar tak bisa berhenti terpesona.

Sang Putra Fajar mulai memainkan gitarnya dan bersenandung. Fajar mendengarkan dengan tersenyum, lalu air matanya mengalir, musik yang diamainkan pria itu sangat indah dan melankolis, musik itu hanyut bersama perasaannya.

Setelah memetik senar terakhir untuk menutup lagunya, Sang Putra Fajar menolehnya. “Kau mau mencoba?”

Fajar menggeleng-geleng. “Aku tidak bisa.”

“Akan kubantu. Bangun dan duduk di sini!”

Fajar pun bangkit. Ia bergerak perlahan dan duduk dengan hati-hati di depan sang Putra Fajar, yang menyerahkan gitar kepadanya. Remaja itu merasakan jantungnya berdegup kencang, mereka luar biasa dekat. Jari-jari Sang Putra Fajar mulai menyentuh tangan kirinya, menunjukkannya cara menggenggam, dan tangan lain untuk memetik senar gitar. Ia merasakan hangat tangan Sang Fajar, merasakan hangat tubuh yang menempel di punggungnya.

Fajar tak mengerti bagaimana, semuanya terjadi secara ajaib, ia mulai menggerakkan ujung jarinya, memetik senar dengan hati-hati namun yakin. Ia memainkan lagu yang berbeda, lebih sedih. Begitu merasa nyaman, Fajar bahkan memejamkan matanya untuk mengkhayati suara petikan gitar itu.

Beberapa saat kemudian ia pun melakukannya sendiri, sungguh menakjubkan baginya untuk menguasai gitar dalam sekejap. Sang Putra Fajar pun bangkit dan berdiri di depannya. “Terus mainkan! Rasakan kau terbang bersamanya, rasakan dia sebagai bagian darimu,” ia berkata.

“Bermain musik adalah salah satu cara mengenal dirimu,” lanjut Sang Putra Fajar. “Musik yang masuk ke dalam akan membuatmu peka pada alam. Mereka akan berdatangan ke dalam ragamu. Kau akan melupakan dunia yang menentangmu, kau akan berdiri sendiri, menjadi besar sehingga segala sesuatu takkan bisa menyembunyikanmu.”

Fajar masih memainkan lagunya, matanya terpejam rapat. Melodinya semakin dalam dan jauh. “Selama kau menyimpan semangat itu, aku akan berada di sini untuk mendengarkanmu bermain.” Bisik Sang Putra Fajar untuk terakhir kalinya. Lalu Fajar merasakan keningnya dicium.

*

Asih duduk di dekat ranjang tempatnya berbaring, menggenggam tangan Fajar dengan erat. Segalanya di ruangan itu bernuansa putih bersih, ada infus menggelantung di samping kiri. Fajar tersenyum pada gadis itu. Ia hampir tak sanggup menggerakkan tubuhnya.

“Maafkan aku,” kata Asih, menangis. “Apa yang kau rasakan?”

“Malam paling mengerikan seumur hidupku,” sahut Fajar, hampir berbisik. “Mereka memasukkan selang ke dalam hidungku dan menyedot isi lambungku, sungguh menyakitkan.”

“Maafkan aku,” kata Asih lagi, air matanya bercucuran. “Tidak semestinya aku memaksamu melakukannya, aku mestinya mengerti kau butuh waktu.”

“Aku tak menyesalinya, Asih. Kalau kau terlambat datang beberapa menit saja aku mungkin sudah meninggalkan dunia ini,” kata Fajar, ikut menangis. “Aku berterimakasih untuk itu.”

“Aku membaca tweet terakhirmu, dan langsung berlari ke tempatmu,” kata Asih, mengusap air mata dengan punggung tangannya. “Tolong terima permohonan maafku ya.”

“Tidak apa-apa Asih,” kata Fajar. “By the way, kau akan heran jika mendengar apa yang terjadi saat aku sekarat dan hampir mati, aku bertemu seorang pria yang luar biasa tampan di alam sana. Namanya Putra Fajar, dia meminjam namaku. Setelah kupikir-pikir dia mungkin saja Lucifer—“

Asih bergidik.

“Ah siapapun Sang Putra Fajar, Ia membuatku sadar bahwa mengakhiri hidup bukanlah jalan terakhir yang terbaik. Aku sekarang tahu apa yang harus kulakukan untuk melanjutkan hidup. Aku tahu apa yang bisa kubagi pada dunia. Asih, begitu aku meninggalkan tempat ini, kau akan mengantarku ke toko alat musik paling bagus di kota ini. Aku akan membeli gitar pertamaku!”

***

©I.B.G. Wiraga

Cerita ini terinspirasi dari lagu “The Morning Son by Beady Eye” <~Beautiful Song

Untuk saudara LGBT di luar sana, be strong, being different is beautiful, berkaryalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s