Tak Termaafkan


20121116-002810.jpg

Sumpah serapah lelaki itu membentur tembok-tembok rumah. Sandra baru saja terbangun dengan keyakinan bahwa rutinitasnya dari hari ke hari akan semakin mengenaskan. Sementara seorang anak yang berumur belum genap empat tahun masih terlelap di dekatnya. Sandra menarik selimut hingga menutupi badan anak itu, supaya dia merasa lebih nyaman. “Kau hidup di dunia yang berbahaya, nak,” ia berbisik—entah untuk sang keponakan atau dirinya sendiri.

Setelah mengangkat kado yang ia bungkus kemarin malam dan meletakkannya kembali di atas almari, Sandra mengintip lewat pintu kamar yang dibukanya beberapa senti. Ia harus memastikan keadaan aman sebelum keluar.

Pria berbadan besar melangkah serampangan melewati kamar tamu, kemudian di waktu yang hampir bersamaan terdengar pintu terbanting. Setelah bunyi mesin sepeda motornya berlalu di kejauhan, Sandra keluar dengan mengambil nafas lega. Dan inilah yang ia sebut dengan rutinitas yang mengenaskan.

Sandra tengah melewati pintu dapur ketika melihat kakaknya terduduk di dalam sana dengan pipi basah oleh air mata. Potongan wortel, pisau dan talenan tergeletak di atas meja, sementara pecahan piring berikut nasi goreng dan sendok berserakan di bawah meja. Tak ketinggalan pecahan gelas dengan cipratan kopi yang memenuhi lantai. Sandra sangat lelah menyaksikan pemandangan ini.

Kakaknya Mirah menikah dengan Dirga—begitu nama bajingan itu—tiga tahun yang lalu. Pada awalnya Sandra merasa mereka benar-benar bahagia, kenyataannya itu tak pernah terjadi.

Sandra sangat menyayangi kakaknya, ia rela tinggal bersama keluarga itu hanya untuk memastikan sang kakak tidak teraniyaya. Sementara Dirga, duda berbadan subur yang secara fisik tampak baik-baik saja. Namun bagaimana pun beberapa orang pernah melakukan kekeliruan, apalagi dalam memilih pasangan hidup. Dalam hal ini, Sandra yakin, kakaknya lebih dari sekedar keliru, dia tertipu habis-habisan.

Tapi nasehat sang adik bahkan dianggapnya hanya sebagai angin lalu. Mirah yakin suatu saat nanti bisa membenahi perilaku suaminya yang kasar, pemarah, pemabuk, dan mau menang sendiri itu. Pria ini—yang menurut pandangan Sandra—sama sekali tak berperasan, dipuja-pujanya bagai dewa. Terlebih lagi, sampai saat ini Mirah mengaku masih mencintainya, dan itu  tentu saja menambah kecurigaan Sandra akan efek guna-guna.

Saat Mirah mengangkat kepala dan memandangnya, Sandra hanya memasang ekspresi iba yang mungkin tak berarti apa-apa dibanding keyakinannya yang kokoh—membenahi kepribadian Dirga yang sakit mental. Sebenarnya, Sandra tak mengharapkan apapun, selain kebahagiannya. Tapi dengan pria ini? Tidak akan pernah.

Jika harus memilih antara meninggalkan keluarga ini atau memaksa kakaknya bercerai, maka Sandra akan memilih meninggalkan mereka. Tapi itupun rasanya tak pantas ia lakukan. Bagaimanapun juga, Mirah adalah kakaknya, dan melihat ia dihadang situasi seperti ini Sandra harus menjaganya.

Melalui jendela, Sandra memperhatikan Bi Sumarti sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Setiap hari sabtu janda tua itu akan datang ke rumah pagi-pagi sekali untuk menyuci dan menyetrika. Bi Sumarti adalah wanita setengah baya berwajah muram. Ia hidup seorang diri di salah sudut gang kawasan ini. Suaminya meninggal karena gantung diri beberapa tahun lalu, dan ia tak memiliki keturunan. Sandra dan Mirah kasihan sekali padanya. Mereka sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.

Ketika melihat pipi kanan Bi Sumarti yang masih agak lebam, Sandra jadi teringat empat hari yang lalu ketika wanita ini mendapat bogem mentah dari Dirga hanya gara-gara beberapa setel pakaiannya yang lupa disetrika. Kenyataannya, Mirah satu-satunya orang yang membayar segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan rumah tangga.

Sandra memohon pamit sepuluh menit kemudian karena harus berangkat kerja. Ia masih bisa mendengar kakaknya sesegukan sambil berusaha menyelesaikan masakan yang ia ditujukan untuk suaminya. Sandra masih ingat, terakhir kali Dirga memutuskan makan di rumah adalah tiga bulan yang lalu.

Perjalanan ke tempat kerja adalah satu hal yang juga diwaspadai. Secara tak mengejutkan, kakak iparnya—Sandra benci sebutan ini—memilih tempat tinggal di kawasan rawan kejahatan, bahkan di pagi hari sekalipun.

Seorang wanita menghadang Sandra belum seratus meter jauhnya dari rumah kontrakan. Wanita ini adalah tipe yang pastinya dibenci Mirah, terlebih lagi Sandra. Ia memoleskan bedak murahan disekujur mukanya dengan ketebalan tak wajar, dan  bila disandingkan dengan kulit leher dan lengannya yanggelap, ia seakan memakai topeng. Terlebih, Sandra memerhatikan, ia memakai kaos hitam ketat dengan lubang leher terlebar yang pernah diketahui. Bawahannya, celana kain putih setipis tisu yang jauh lebih ketat lagi. Dan yang terparah dari semua diskripsi itu, wanita yang seantero penghuni gang tahubernama panggilan Lis itu benar-benar murahan. Wanita macam ini berkencan dengan pria berbeda setiap malam, meskipun ia sudah ber-suami. Tapi, oh, suami macam apa yang membiarkan istrinya menjual diri?

“Hei, Sandra,” sapanya, ia melayangkan senyum paling memuakkan yang pernah Sandra lihat. “Ngomong-ngomong, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu, tapitampaknya rumah tangga kakakmu tak pernah harmonis. Tolong beri tahu aku, apa dia menderita kelainan seksual sehingga suaminya selaluuring-uringan dan tak betah di rumah?”

Sandra tak memedulikannya dan bergerak menghindar, namun wanita itu memotong jalannya lagi.

“Aku sama sekali tak heran,” ujar Lis, menyulut sebatang rokok dengan gaya. “Pria mana coba yang  tahan tidur dengan wanita tak berpayudara?”

“Bukanurusanmu!” kata Sandra tajam. Ia tak percaya, Lis mencegatnya di tengah gang hanya untuk menghina kakaknya. Sandra pasti sudah mengerahkan tinju jika saja ia tak bisa menahan diri.

Sandra melangkah melewati wanita itu secepat yang ia bisa, namun konsentrasinya tidak cukup untuk menepis kata-kata berikutnya.

“Ini pastinya bukan urusanku seandainya kakak iparmu tidak mendapatkan pelariannya dariku!”

*

Suasana hari Sandra di tempat kerja pastilah tidak seburuk ini jika saja pelacur itu tak usah repot-repot menyapa. Lagian, ucapannya perihal keluarga kakaknya sungguh keterlaluan dan tak masuk akal. Mirah sudah cukup menderita, geram Sandra dalam hati, ditambah wanita ini turut campur rumah tangganya, aku tak bisa membayangkan.

 

Mirah menelpon saat jam makan siangkantor. Sandra sudah membayangkan suara yang biasa lemas dan terisak-isak saat menemukan nama kakaknya memanggil di layar ponsel. Tapi kali ini tidak.

“Sandra, aku dan Dimas akan berangkat ke rumah Asri,” katanya. Sandra bersyukur, suara kakaknya terdengar normal.

“Sekarang? Bukankah pernikahannya baru dilangsungkan besok?”

“Aku akan menginap di rumah Asri, lalu kami memutuskan akan berangkat sama-sama kesana,” katanya. “Dan aku sudah menelpon mas Dirga sebelum berangkat.”

“Oh, baiklah kalau begitu,” Sandra menutup pembincaraan.

Sandra berpikir, kenapa begitu terburu-buru? Mungkinkah ia sudah tak tahan lagi menghadapi Dirga dan memutuskan untuk menghindar? Ah, setidaknya ini khabar baik.  Semakin lama ia berada dekat pria itu, keadaan akan semakin gawat.

*

Sandra mampir ke rumah makan sebelum pulang, dan seorang teman kantor mengajaknya ngobrol sepanjang sore hingga malam menjelang. Sementara arloji sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Sandra mulai diserang kecemasan.

Gang-gang itutampak lebihgelap dari seharusnya saat wanita itu lewat. Sandra berjalan dengan terburu-buru karena ini sama sekali bukan pertanda baik. Sesekali ia melewati kelompok pemuda yang menghabiskan botol-botol minuman keras di sudut gang. Sandra melangkah dengan santai saat mereka mulai mengeluarkan selentingan godaan yang memuakkan. Ia merasa sangat berani, meski sebenarnya ngeri.

Dua blok dari rumah kontrakan, Sandra menemukan sepeda motor yangtampaknya ia kenal, terparkir miring di dekat emper warung yang sudah tutup. Terdengar suaraorang bercakap-cakap di dekat sana. Sandra mengenali salah satu suara di antaranya. Dengan berjingkat-jingkat di bawah bayang atap rumah ia mendekat, suara itu terdengar semakin jelas.

“Aku benar-benar membutuhkan barang itu sekarang…” kata suara pria memelas, agak asing di telinga Sandra.

“Siapapun membutuhkannya,” ujar Dirga sok. Sandra mengintip dari tumpukan bak sampah. Mereka, dua pria itu berdiri di sudut rumah yanggelap. “Tapi segala sesuatu ada harganya, dan ingat berapa utangmu?”

“Aku akan memberikan apapun yang kupunya, asal kau beri barang itu sekarang, sedikit saja, aku sangat membutuhkannya, kumohon!” Wajah pria itu sangat pucat. Tulang pipinya menonjol, dan dahinya mengilap karena keringat.

“Kau sudah tak memiliki apa-apa. Dengan apa kau akan membayar?”

“Ehm, kau bisa pakai Lis sesukamu, selama beberapa hari, sebulan-pun jika kau mau.”

Dirga bersandar santai di tembok sambil menghirup rokok.

“Baiklah, malam ini aku akan menjemputnya,” katanya santai sebelum beranjak dan melangkah meninggalkannya.

Pria itu tampak tidak puas dan bergerak mengikuti.

“Kumohon berikan barang itu sekarang, sedikit saja!” ujarnya dengan nada sangat menyedihkan. Ia mulai menarik jaket Dirga.

“Setelah malam ini, aku akan menitipkannya pada Lis,” ujarnya, berusaha melepaskan diri, tapi pria itu mencengkeramnya semakin kuat. “Dan lepaskan aku, bangsat!”

Terjadi pergulatan seru di antara mereka, dan Dirga tampaknya sudah muak dengan pria itu, tinjunya melayang. Pria menyedihkan itu terperosok ke dalam selokan. Hidung dan bibirnya berdarah, namun ia berusaha bangkit lagi.

“Berikan satu saja untuk sekarang!” pria itu lebih memelas lagi. “Kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini, brengsek!”

Lawan bicaranya tak peduli, menaiki sepeda motornya secepatnya dan melaju.

Sandra melangkah mundur. Ia bergumam dalam hati, pria-pria ini tidak boleh menemukanku sedang mengintip disini, tidak setelah menguping pembicaraan mereka.

 

“Kembali kau jahanam!” ia memekik, menjatuhkan kedua lututnya di tanah. “Kau akan menanggung akibatnya!”

Disamping bak sampah Sandra masih meringkuk, jantungnya berdegup kencang. Apa yang kulakukan di tempat seperti ini?

Bertumpu pada lutut, meludah darah tanpa henti dan tak mendapatkan apa yang diinginkan, pria itu mulai mengumpat-umpat dan berteriak frustasi. Lalu ia bangkit, tergopoh-gopoh dan menendang satu tong sampah. Benda itu terbang berhamburan setinggi dua meter dan menabrak dinding pagar. Sampah-sampah plastik dan kertas berhamburan di udara. Rupanya ia ketergantungan terhadap sesuatu, dan Dirga tak memenuhi permintaannya.

*

Sandra mendapat semakin banyak alasan untuk membenci pria ini. Tak bisa dibiarkan, ia menggeram seorang diri. Sudah cukup membuat kakakku menderita, sekarang ia menjual narkoba. Oh Tuhan, aku harus memisahkan mereka berdua secepatnya sebelum keadaan bertambah parah, bagaimanapun caranya.

    

Pukul sebelas, malam minggu yang kelam, Sandra tak bisa memejamkan mata bahkan untuk beberapa menit. Sehingga ia hanya duduk menonton acara lawakan di telivisi, sambil sesekali menenggak susu yang mendingin. Lalu pandangannya beralih ke atas almari. Kado itu masih berada di atas sana. Rupanya Mirah lupa  membawanya, padahal ia sudah menyiapkan kado ini selama berhari-hari dan spesial ditujukan untuk sahabatnya yang akan menikah.

Ketika Sandra akan mengambil ponsel untuk mengirim sms, suara sepeda motor menggerung memasuki halaman rumah. Secara reflek, Ia bangkit ke arah pintu untuk memastikan keadaannya telah terkunci dengan betul. Lalu terdengar suara tawa di luar, salah satunya wanita.

Sandra menyibakkan tirai kain penutup jendela dan melihat dua sosok memasuki beranda. Dirga berjalan sempoyongan setengah mabuk, dibopong seorang wanita. Sandra membalikkan badan dan bersandar di tembok. Tidak… dia bersama Lis si wanita murahan.

 

Sandra beralih ke jendela yang sebelah dalam. Kedua manusia itu sekarang melangkah ke ruang tamu sambil berpelukan dan berciuman. Tawa mereka membuatnya muak. Berani-beraninya ia pulang membawa pelacur! Sandra mengutuk.

“Kau pernah memperlakukan istrimu seperti ini, sayang?” gumam Lis, bergelayut manja di pundak Dirga.

Dirga tak menyahut, bibirnya sedang sibuk menyusur leher wanita itu.

Mereka masuk ke dalamkamar dengan berpelukan erat, Sandra menggeleng-geleng tak percaya, ia gemetaran karena jijik. Sandra tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau kakaknya melihat pemandangan ini.

*

Sandra terbangun keesokan harinya dengan keletihan tiada tara. Ia merasa seluruh bagian tubuhnya tak mendapat cukup tenaga untuk bergerak. Bagaimanapun ia berusaha bangkit dan meraih gelas air. Saking lemasnya, tangan gadis itu nyaris saja menyenggolnya jatuh.

Sandra mengumpulkan segenap energi untuk duduk dan melamun selama beberapa menit. Apa aku meminumnya terlalu banyak? Ia bergumam sambil mengamati wajahnya yang pucat di cermin.

Sandra memasukkan satu botol obat tidur ke dalam laci di bawah meja rias dan bangkit. Ia membuka pintu kamar dan menemukan pemandangan pertama yang mengerikan. Pintu kamar kakaknya terbuka lebar, berceceran seutas bra warna hitam, bantal guling putih dengan bercak merah berikut tumpuhan darah di lantai keramik.

Memberanikan diri, Sandra melangkah memasuki kamar itu dan jeritannya terlepas begitu melihatnya. Ia tak sanggup mendengar suara apapun di sekitar kecuali desah nafasnya, suasana mendadak sunyi senyap menakutkan.

Tubuh telanjang Dirga terlentang di atas ranjang dengan pisau besar menancap di perutnya, darah berceceran di seprai dan lantai, sementara badan Lis yang terlilit selimut telungkup di sampingnya. Keadaannya membuat Sandra mual. Pemandangan yang ia lihat hanya merah darah. Mereka berdua tak mungkin mati kan?

Sandra mundur perlahan dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bi Sumarti dan beberapa orang tetangga berdatangan hanya beberapa detik berselang. Teriakan itu lebih dari cukup mengundang seluruh perhatian penghuni gang.

Bi Sumarti dan beberapa orang tetangga mengantar Sandra yang syok menuju ruang tamu sementara rumah mungil itu bertambah ramai. Pak RT datang sepuluh menit kemudian dengan beberapa polisi.

Sandra duduk dengan tatapan hampa, Bi sumarti menangis. Seorang tetangga datang membawa gelas air, namun wanita itu tak mau minum. Beberapa orang bahkan mulai bertanya ini itu pada Sandra, tapi ucapan mereka nyaris tak ia dengar.

“Saya bertemu seorang pria di halaman rumah ini ketika saya akan masuk untuk mencuci. Ia duduk di sudut halaman sambil menghirup sesuatu. Pria itu langsung melompat kabur begitu melihat saya, kupikir dia tuan Dirga, tapi aku sadar dia terlalu kurus…” Bi Sumarti memberi kesaksian pada polisi, nyaris tanpa ekspresinya.

“Ya, saya melihatnya juga,” Mas Toto si tukang sayur nimbrung. “Saya sedang lewat di depan rumah ini ketika melihat pria yang kukenali sebagai suami mbak Lis meloncati pagar rumah. Ia menabrak gerobak sayur saya.”

“Saya yakin, pria itu memergoki istrinya selingkuh dengan Mas Dirga dan membunuh keduanya saat itu juga,” ceplos ibu tetangga yang duduk di samping Bi Sumarti.

“Beberapa orang polisi kini tengah mengejarnya,” kata seorang lagi.

“Kasihan Mbak Mirah,” gumam ibu itu lagi dengan nada prihatin.

“Anda sendiri mbak?” Tanya polisi yang sama pada Sandra, buku catatan terbentang pangkuannya. “Dan anda tidak mendengar apapun yang mencurigakan?”

“Saya meminum obat tidur semalam, sehingga tidur saya sangat pulas, tapi sebelum itu saya melihat sesuatu yang perlu anda ketahui,” dan Sandra menceritakan semua yang ia lihat kemarin malam. Mulai dari percakapan yang tak sengaja ia dengar di sudut gang, sampai adegan mesum kedua korban lewat jendela kamar.

“Lalu, anda tahu di mana kakak anda sekarang?” tanya polisi itu lagi.

“Dia dan anaknya Dimas sedang berada di rumah kerabat,” kata Sandra tanpa ekspresi. “Mereka berangkat kemarin siang dan berencana pergi ke acara pernikahan seorang teman hari ini.” Polisi itu memandangi Sandra seakan mencari urat-urat kebohongan di wajahnya, tapi wanita itu memutuskan untuk bangkit.

“Permisi, aku harus menghubunginya sekarang.”

*

Rumah Asri hanya dua puluh menit perjalanan dan selama itu pula Sandra masih belum yakin Dirga—manusia tak berhati itu telah lenyap dari muka bumi. Sementara, situasi ini membuatnya melewatkan sarapan dan makan siang sekaligus.

Asri membukakan pintu ketika ia sampai. Wanita dengan kepala nyaris gundul ini memasang tampang aneh ketika melihatnya muncul.

“Mari masuk,” ajaknya setengah berbisik. Dari ekspresinya, Sandra tahu ia harus segera menemui Mirah, sang kakak.

Dimas duduk santai di atas permadani. Ia memakan sebongkah besar es krim seorang diri sambil menonton serial kartun di televisi. Sementara itu, ibunya duduk melamun di atas sofa tak jauh darinya. Mungkinkah orang-orang ini tahu Dirga telah mati terbunuh, ia berpikir. Tapi rasanya, aku belum siap menyampaikan berita ini.

Sandra duduk di dekat kakaknya. Mirah yang mendadak sadar seketika menoleh dan berhambur memeluknya. “Oh, Sandra…”

Ia membiarkan sang kakak menangis di pundaknya. “Tidak apa-apa,” gumam Sandra menenangkan.

“Dia tak mau makan atau minum apapun begitu tiba tadi pagi,” ungkap Asri, menyusul duduk. “Dia bilang mau pulang untuk mengambil kado yang ia lupa ambil dari kamarmu. Tapi saat datang, dia hanya duduk dengan muka pucat pasi, dan tanpa benda apapun yang mirip kado. Dia juga menolak saat aku ingin mengobati luka di tangannya, kau lihat? Bisakah kau tanya dia, apa yang terjadi? Apakah suaminya bertambah kejam saja sekarang?”

Sandra menggenggam tangan Mirah dan mengamatinya. Tangan itu belepotan penuh noda darah yang mengering. Ini bukan luka. Ini darah orang lain.

“Aku sangat mencintainya,” isak Mirah.

“Inilah yang kau dapat dengan mencintai orang yang salah,” gumam Sandra. “Entah berapa kali aku bilang padamu.”

“Maafkan aku,” kata Mirah, mempererat pelukannya.“Aku tak kuasa menahan emosi menemukan dia di ranjangku bersama pelacur itu.” ujarnya terisak. Sandra menghela nafas “Apa yang harus kulakukan sekarang, Sandra?”

“Kau sama sekali tidak pantas diperlakukan seperti itu, kau tahu?” kata Sandra, mengamati Dimas yang menelantarkan sisa es krim karena bosan. “Dan kau tidak pantas berada di mana-mana … selain di dekatku.”

*

Lima kilo meter dari tempat itu, seorang wanita bergumam-gumam sendiri di dalam rumahnya yang gelap, meski senja telah lewat. “Pria yang mengkhianati saya tak pantas hidup!”

 

Langit abu-abu gelap dan suram di atas deretan rumah yang dibangun terlalu mampat. Lima belas menit berlalu, wanita itu masih duduk di pinggir ranjang dengan mata tajam tertuju ke jendela, di luar sedang gerimis. “Semua pria yang mengkhianati istrinya tak pantas hidup, mereka harus dimusnahkan.”

 

Ia bangkit, menarik seutas kain panjang dari dalam lemari plastik di dekat ranjang lalu melemparnya melewati batang kusen di atas langit-langit rendah tanpa plafon.  Ia mengikat kuat ujung-ujungnya seraya terus bergumam-gumam hal yang sama.

Gerimis pertama setelah musim kemarau telah berganti hujan deras di luar. Air mulai membanjiri gang-gang bersaluran sempit dan beberapa anak tanpa alas kaki berlari pulang. Di dalam rumah itu, Bi Sumarti tergantung di leher dengan ujung kaki dua senti tak menyentuh lantai, ia baru saja kehilangan nyawanya.

***

©I.B.G. Wiraga

Follow me @ibgwiraga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s