Memori Kunang-kunang


tumblr_mpx99b1uoD1rth37eo1_1280

Adi mengenyakkan diri di kursi tempat sang kakek duduk sepanjang sore hingga malam menjelang. Ladang jagung di depan rumah diliputi kegelapan dengan suara-suara nyanyian malam tanpa henti. Tak terasa seminggu sudah Adi menghabiskan liburannya di rumah itu. Rumah yang mengingatkannya akan masa-masa yang hangat dan menyenangkan.

“Bagaimana keadaanmu, Adi?” tanya sang kakek lembut. Jika ada hal yang paling menenangkan di dunia, begitulah suara itu.

“Tidak begitu baik,” sahut Adi muram, mengamati keadaan di beranda. “Aku hanya teringat ayah.”

“Coba lihat kunang-kunang di sana!” tunjuk kakeknya ke arah ladang yang dihiasi beberapa titik cahaya berterbangan. “Mereka terlihat sama kan seperti setahun silam?” Kini pria tua itu melingkarkan lengannya di pundak Adi.

“Iya,” kata anak itu mulai menangis.

“Kau tahu Adi, apa yang kunang-kunang lakukan di siang hari?” tanya sang kakek, membelai rambut cucu kesayangannya.

“Tidak,” sahutnya menggeleng.

“Mereka tidur,” kata sang kakek tersenyum. “Tidak benar-benar tidur, tapi mereka memang beristirahat di atas daun dan ranting pohon, atau mungkin juga di semak-semak yang rimbun.”

“Oh, itu kenapa kita tak bisa menemukan mereka di siang hari,” kata Adi, menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangan. “Mereka bersembunyi.”

“Benar,” sahut sang kakek. “Lagi pula mereka tidak suka siang hari. Mereka sedikit iri pada matahari yang bercahaya terang. Namun mereka menghormatinya. Mereka punya waktu sendiri untuk menikmati dunia.”

“Aku rindu ayah,” isak Adi, menangis lagi. “Aku ingat ayah menangkap beberapa kunang-kunang dan menaruhnya dalam toples kaca. Aku tidur dengan mereka bekerlap-kerlip di samping ranjang. Dan ayah menceritakanku dongeng tentang dua kelinci yang melihat batu bercahaya di tengah hutan. Cerita itu indah sekali.”

“Kakek yang menceritakan dongeng itu pada ayahmu,” gumam pria tua itu.

“Benarkah?” tanya Adi tersenyum. “Kau mau menceritakannya kembali?”

“Tentu,” kata sang kakek. “Kakek bisa menceritakan lebih banyak dongeng kalau kau tidak menangis.”

“Aku akan mendengarkannya tanpa menangis,” ucap Adi, menggenggam tangan kakeknya yang keriput.

“Nah sepasang kelinci itu keluar pada malam hari karena mendengar suara-suara dari tengah hutan,” kakek mulai bercerita. “Mereka muncul dari liang dan mendongak ke arah langit hutan yang gelap. Ada empat pasang cahaya kuning yang berkerlap-kerlip di antara pepohonan. Ibu dan bapak kelinci itu penasaran. ‘Kau pernah melihat hal seperti itu sebelumnya, suamiku?’ tanya salah satu kelinci,” kakek meniru suara kecil yang lucu. “‘sama sekali belum, tapi beberapa tetangga pernah membicarakannya,’ kata pasangannya.”

“Lalu apa yang mereka lakukan?” tanya Adi takjub karena sang kakek menceritakan dongeng itu dengan versi yang berbeda.

“Mereka terpesona,” kata pria tua itu. “Dan memutuskan untuk mengikuti mahluk cahaya.”

“Mereka meninggalkan anak-anaknya di dalam liang?” tanya Adi mengernyit.

“Anak-anaknya tertidur pulas,” kata kakek meyakinkan. “Sepasang kelinci itu merasa mereka tak perlu khawatir, mereka tahu benar daerah hutan itu, jadi mereka tidak takut akan tersesat.”

“Jadi mereka mengikuti para kunang-kunang?” tanya Adi.

“Iya,” sahut kakek tersenyum. “Para mahluk cahaya terbang beriringan, agak berputar-putar namun bergerak ke arah timur, semakin masuk ke tengah hutan yang gelap.

“Pasangan kelinci itu mengikutinya, mereka berlari pelan, sembari menoleh ke sana ke mari dengan waspada,” lanjut si kakek.

“Mereka tidak takut?” tanya Adi merengut. “Aku takut berada di dalam hutan apalagi kalau malam hari. Aku takut di tempat yang gelap.”

“Kau tidak perlu takut dengan kegelapan, Adi?” kata sang kakek mengangkat alis. “Asal ada setitik cahaya, maka kau tidak perlu merasa takut. Cahaya itu akan selalu melindungimu dari apapun yang mengancam.”

“Aku tidak mengerti,” kata Adi bingung.

“Seperti dua kelinci itu,” kata kakek. “Mereka tidak takut karena mereka mengikuti cahaya. Percayalah pada cahaya, Adi. Dan asal kau tahu, kau sudah memiliki cahaya yang terang di dalam diri. Ini seperti obor, kau sudah memiliki obor di dalam hatimu. Kau hanya perlu menyalakannya. Dan semua orang pun memilikinya.”

“Bagaimana aku menyalakannya, kek?” tanya Adi lagi.

“Dengan doa,” kata sang kakek. “Kau hanya perlu berdoa pada pemilik cahaya. Tuhan yang memiliki cahaya itu.”

“Kau bisa tunjukkan bagaimana caranya berdoa?” tanya Adi.

“Begini,” bisik pria itu. “Pejamkan mata, cakupkan kedua tanganmu di atas dada dan ucapkan dalam hati, ‘Tuhan, tolong nyalakan cahaya dalam hatiku.’”

“Itu saja?” tanya Adi menoleh sang kakek.

“Ya itu saja cukup,” katanya. “Jika kau merasa sedih atau takut, lakukan hal itu maka kau tidak akan merasa sedih atau takut lagi.”

“Boleh aku melakukannya sebelum tidur atau berangkat ke sekolah?” tanya Adi.

“Tentu,” kata kakeknya tersenyum. “Kau bisa melakukannya kapanpun dan dimana saja.”

“Aku berjanji,” kata Adi menghirup udara dalam-dalam.

Keduanya kembali mengamati ladang, bulan sabit muncul di langit timur setelah sepanjang malam itu menghilang di balik awan-awan hujan. Dan semakin banyak kunang-kunang di udara. Beberapa di antara mereka bahkan terbang mendekati rumah.

“Eh ya, lalu apa yang terjadi pada dua kelinci itu?” tanya Adi merapatkan jaketnya, angin dingin berhembus dari ladang.

“Mereka sampai di tengah hutan,” sahut si kakek. “Dan semakin banyak titik-titik cahaya di udara. Kelinci-kelinci itu bertemu banyak sahabat. Ada tiga burung hantu bermata besar yang hinggap di atas dahan pohon. Lalu empat ekor rusa yang berbisik-bisik. Seekor gajah yang haus, sepuluh ngengat bersayap lebar yang terbang melintasi langit, dan banyak lagi.”

“Kenapa semua hewan berkumpul di tempat itu?” tanya Adi penasaran.

“Karena mereka penasaran pada cahaya,” kata sang kakek. “Cahaya yang berterbangan mewarnai udara.”

“Aku bisa membayangkannya, kek,” gumam Adi memejamkan mata.

“Semua penghuni hutan bergerak bersama-sama dengan tuntunan mahluk cahaya,” lanjut si kakek. “Mereka sampai di lembah yang digenangi mata air bergemericik. Saat itu bulan mati, sebagian besar dunia diliputi kegelapan, tapi tidak di hutan itu. Jutaan  kunang-kunang berwarna kuning menyelimuti bebatuan di tengah mata air, dan milyaran lainnya terbang memenuhi pemandangan. Semua yang menonton terpesona.”

“Aku benar-benar bisa membayangkannya, kek,” gumam Adi lagi, kedua kelopak matanya terpejam rapat. “Indah sekali.”

“‘Aku tak percaya pada apa yang kusaksikan,’ kata induk kelinci. ‘Aku juga baru pertama kali melihat hal semenakjubkan ini,’ timpal seekor tupai yang baru saja kehilangan rasa kantuknya,” kakek melanjutkan cerita dengan suara berubah-ubah. Adi tersenyum geli mendengarkannya. “‘Kami mahluk-mahluk malam selalu mengalami hari yang indah,’ sahut burung hantu bertelinga panjang. ‘Tak menyangka semakin banyak sahabat siang yang penasaran pada misteri cahaya di jantung hutan.’”

“Ceritanya indah sekali, sama seperti saat ayah menceritakannnya,” gumam Adi sesegukan, Ia tersenyum mendengar kisah dari pria tua itu, meski  air mata mengalir ke pipinya. “Tapi aku rindu ayah,” Ia terisak. “Maafkan aku kek, aku tak bisa menahan air mata, mengingat ayah selalu saja membuatku menangis.”

“Tidak apa-apa, menangislah,” kata kakek, suaranya yang lembut dan menenangkan, membuat Adi kembali memandangnya. “Ayahmu terbang bersama cahaya. Dia sangat menyayangimu Adi. Rasa sayang itu bisa kau temukan di dalam hatimu. Ingat, hati kita seperti hutan yang luas dan hijau. Ada bagian di mana pohon-pohon dipenuhi bunga dan buah. Ada tempat dimana para rusa dan entelop berlarian di padang rumput. Lalu mata air dan sungai berbatu mengalir jernih, juga ikan-ikan didalamnya.”

“Oh ya?” gumam Adi, memandang wajah pria itu.

“Iya,” kata kakek memeluk cucunya dengan erat.

“Lalu sekarang di mana ayah tinggal, kek?” tanya Adi lagi.

“Di tempat yang dipenuhi cahaya,” kata pria itu memejamkan mata. “Tempat di mana tak ada siang dan malam. Sungai madu mengalir tanpa surut, bunga-bunga bermekaran tak pernah layu, pohon-pohon berbuah sepanjang tahun.”

“Aku ingin berada di tempat seperti itu bersama ayah,” kata Adi mendadak.

“Tidak,” sahut kakek menggeleng pelan, tangan kanannya mengelus rambut anak itu. “Tidak semua orang boleh berada di sana. Dan selalu ada alasan kenapa kita ada disana. Hanya orang-orang yang baik boleh tinggal disana—jika saatnya tiba.”

“Apakah kakek akan pergi ke sana?” tanya Adi. Pria itu menghirup udara dalam-dalam sebelum menjawab.

“Kakek tidak pernah tahu,” katanya. “Cahaya itu datang namun tanpa kita sadari. Kita tidak usah menunggu cahaya itu menjemput kita, Adi,” lanjut kakek. “Tapi kita harus siap kapanpun ia datang.”

“Aku mengerti,” sahut Adi, menerawang ke arah ladang jagung di kejauhan.

“Adi,” kata kakeknya lagi. Anak itu menolehnya. “Ayahmu akan sedih kalau kau menangis terus. Dia ingin melihatmu tersenyum dan tertawa riang sepanjang waktu.”

Adi mengangguk.

“Suatu saat,” lanjut kakek, “kau akan mengerti. Tidak ada salahnya merindukan seseorang yang disayangi. Seperti bunga Amelia kering yang diterbangkan angin. Jika kau adalah bunga amelia, kau hanya perlu percaya pada angin yang akan membawamu ke tempat-tempat yang indah. Percayalah Adi, dan tersenyumlah pada hari-hari.”

Adi mengangguk lagi. Dia takkan menangis.

“Nah, sekarang waktumu untuk tidur,” kata kakek. “Aku akan mengantarmu ke kamar.”

Mereka bangkit dan beranjak ke dalam rumah. Keduanya berjalan melintasi ruang tamu, berbelok di pintu pertama, menaiki tangga kayu menuju lantai atas, menelusuri koridor bercahaya redup dan masuk ke dalam kamar terakhir di ujung.

Adi naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Kakek membantunya menaikkan selimut sampai ke atas dada seraya berbisik, “Tidurlah dan mimpi indah.”

“Oke,” sahut Adi tersenyum. “Asal kakek berjanji akan menceritakan lebih banyak dongeng besok.”

“Janji,” gumam pria tua itu mengerlingkan mata sembari mengangkat jari kelingking. “Sekarang pejamkan matamu.”

Adi berpura-pura tidur selama sepuluh menit kemudian karena sang kakek menunggunya. Memastikan cucunya telah tertidur lelap, pria tua itu bangkit, mematikan lampu dan beranjak meninggalkan kamar.

Setelah terdengar suara langkah kaki kakeknya menuruni tangga, Adi membuka matanya lagi dan mendongak ke atas lubang angin di atas jendela. Tiga cahaya kuning mungil muncul dari lubang-lubang itu, berkerlap-kerlip lalu terbang ke sekeliling kamar yang gelap. Adi mengamati meraka sepuas-puasnya sebelum menaikkan selimut sampai ke atas dagu. Ia memejamkan mata pelan seraya menyakupkan kedua tangan di atas dada. “Tuhan, tolong nyalakan cahaya dalam hatiku.”

***

©I.B.G. Wiraga

Follow me @ibgwiraga

 

Baca komentar-komentar untuk cerita ini di Kemudian.com

Advertisements

One thought on “Memori Kunang-kunang

  1. Ceritanya bagus banget kak.. Ada makna yang dalam di cerita ini. Coba kalau dibuat ilustrasinya waktu para binatang mengikuti cahaya di tengah hutan, pasti keren..
    This is so different, I love it! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s